Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Risiko Gejolak Makin Besar

SINDO , Jurnalis-Senin, 07 April 2008 |09:45 WIB
Risiko Gejolak Makin Besar
A
A
A

JAKARTA - Sektor keuangan Indonesia semakin rentan terhadap gejolak krisis keuangan yang terjadi di luar negeri. Hal ini merupakan risiko yang tidak mungkin dihindari karena integrasi sektor keuangan dunia semakin erat.

"Potensi gejolak yang ditimbulkan makin besar. Potensi itu bisa datang dari berbagai hal," kata Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo di Jakarta, Senin (7/4/2008).

Menurutnya, dampak kekacauan keuangan dari negara lain bisa datang dengan cepat ke sektor keuangan Indonesia sehingga memerlukan antisipasi yang lebih cepat.

Dengan demikian, pemerintah perlu dibekali otoritas tanpa perlu melibatkan legislatif dalam membuat keputusan penting. "Ruang pemerintah perlu lebih besar, sebab dampaknya bisa meluas dengan cepat," paparnya. Bambang mengatakan, kejatuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia menunjukkan fluktuasi pasar modal dunia mudah berdampak di semua negara.

Namun, bagi Indonesia dampaknya relatif masih kecil dibandingkan bursa di negara lain. "Sektor perbankan kita juga relatif masih aman, risikonya masih terkendali," ujarnya. Meskipun tumbuh lambat, menurut Bambang, pada Februari 2008 jumlah dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional masih tinggi.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, DPK pada Februari 2008 naik 0,2 persen terhadap bulan sebelumnya menjadi Rp1,474 triliun. Sebelumnya diberitakan, pemerintah dan BI menyiapkan aturan tentang tata cara atau protokol penanganan krisis ekonomi.Aturan yang berbentuk UU Jaring Pengaman Keuangan itu di antaranya memberikan mandat kepada instansi tertentu mengambil tindakan penting, termasuk memakai uang negara tanpa persetujuan parlemen.

Bambang menuturkan,sebaiknya muatan RUU tersebut menjelaskan pihak mana saja dan kewenangan apa saja yang bisa dilakukan bila situasi ekonomi memburuk. Adapun formula kebijakan tidak dibakukan untuk menghindari kekakuan. "Kadang kebijakan yang tepat untuk menghadapi situasi sulit saat ini tidak bisa diterapkan pada situasi lain masa mendatang," ujar Bambang.

Sektor Riil Masih Aman
Di sisi lain, Bambang menilai situasi krisis sektor keuangan yang menjalar ke sektor riil belum terjadi di Indonesia. Kecenderungan itu diperkirakan baru terjadi di Amerika Serikat dan belum menjadi masalah umum global.

"Bila ukurannya ekspor, kinerja ekspor nonmigas dua bulan pertama masih baik,"ujar Bambang. Pertumbuhan ekspor nonmigas selama Januari-Februari 2008 terhadap periode yang sama tahun lalu ke Amerika Serikat tercatat tumbuh 9,1 persen.

Selanjutnya, China naik 31,4 persen, Jepang 16,1 persen,Singapura 13,3 persen,dan Uni Eropa 12,4 persen. "Secara umum kebutuhan Asia terhadap ekspor kita masih tinggi. Setidaknya sinyal negatif baru bisa disimpulkan bila penurunan ekspor pada Februari 2008 terhadap Januari berlanjut sampai akhir semester I 2008," kata Bambang.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement