>

Kredit BPD Tumbuh 27,5%

|

Tomi Sujatmiko - Sindo

JAKARTA - Kredit  kelompok Bank Pembangunan Daerah (BPD) secara tahunan (YoY) mencatat pertumbuhan sebesar 27,5 persen dari Rp58,816 triliun menjadi Rp75,023 triliun. Kenaikan disebabkan pencairan (disburshed) dana milik pemda terkait dengan proyek atas beban APBD.

Berdasarkan statistik perbankan terbitan Bank Indonesia (BI) per Maret 2008 jumlah kredit yang disalurkan meningkat 27,5 persen dari Rp58,816 triliun (Maret 2007) menjadi Rp75,023 triliun. Dari bulan ke bulan penyaluran kredit terus melonjak. Pada Januari 2008 kredit BPD mencapai Rp71,524 triliun dan Februari sebesar Rp73,240 dan Maret sendiri mencapai Rp75,023 triliun. Sedangkan berdasarkan jenis penggunaan, kredit untuk sektor investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 34 persen dari Rp4,574 triliun (Maret 2007) menjadi Rp6,119 trilium (Maret 2008). Peningkatan mulai terasa sejak awal tahun di mana Januari sebesar Rp5,772 triliun dan Februari sebesar Rp5,920 triliun.

"Peningkatan kredit disebabkan oleh pencairan dana milik pemda terkait dengan proyek di daerah atas beban APBN. Pemerintah pusat mendesak agar pemda tidak menunda pencairan proyek seperti dulu (takut dituding korupsi)," jelas Pengamat perbankan Ryan Kiryanto di Jakarta, Selasa (20/5/2008).

Ryan menuturkan melalui pencairan pada awal tahun, akan mendorong kegairahan ekonomi di daerah sehingga dunia usaha di daerah akan merespons kegiatan ekonomi yang didukung oleh pemda. Sedangkan untuk kredit sektor investasi akan memberi multiplier effect luas di daerah, terutama dikaitkan dengan kinerja kepala daerah. Namun, BPD harus mengantisipasi kenaikan BBM yang akan berdampak kepada seluruh kredit. (mbs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
komentardisclaimer

    berita lainnya

    • Finance

      APBN Berstatus WDP, Ini Penyebabnya

      Opini WDP atas LKPP oleh BPK, dikarenakan oleh permasalahan terkait piutang over lifting,

    • Finance

      Penggabungan Pertagas-PGN Dinilai Ancaman

      Menanggapi hal tersebut, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan mengatakan, wacana akuisisi dua perusahaan BUMN tersebut hanya sebuah ancaman lantaran kedua perusahaan tersebut selalu melakukan persaiangan yang tidak sehat.

    Baca Juga

    Pengembang Optimistis 2015 Tahun Baik Bagi Bisnis Properti