>

13 BPR dalam Pengawasan BI

Rabu, 11 Juni 2008 - 15:31 wib | Eviana Ulitaria Panjaitan - Sindo

13 BPR dalam Pengawasan BI
BANDUNG - Sebanyak 13 bank perkreditan rakyat (BPR) yang tersebar di Jawa - Bali, masuk dalam daftar pengawasan khusus (DPK) Bank Indonesia (BI).

Jika dalam kurun waktu enam bulan tidak dapat memperbaiki capital adequate ratio (CAR), BI akan mencabut izin usaha BPR tersebut.

Direktur Direktorat Kredit BPR dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Bank Indonesia Ratna E Amiaty menjelaskan, jumlah BPR saat ini mencapai 1.830 unit. Namun dalam kurun waktu 2005-2008 hanya ada 15 BPR yang mati. "Kebanyakan berada di Jabar dan sisanya di wilayah Jawa dan Bali.

Kalau di luar itu sih tidak ada karena memang BPR sudah masuk ke wilayah Jawa Bali jauh lebih lama dari pada daerah lainnya," ujar Ratna usai, menghadiri Seminar Sehari Solusi Kemudahan Pembiayaan Kredit untuk Sektor UMKM, di Hotel Horison Jalan Pelajar Pejuang, Kota Bandung, Rabu (11/6/2008).

Tahun ini Ratna menyebutkan ada 13 BPR yang masuk ke dalam DPK. Sebagian besar berada di Kota Bandung dan salah satunya adalah BPR Citraloka Dana Mandiri (CDM). Seluruh BPR tersebut tengah berada dalam masa penyehatan dan terus masuk dalam pengawasan BI. BPR ini harus menunjukan perbaikan dari sisi CAR.

"Mereka harus berjuang selama paling tidak enam bulan. Jika setelah itu CAR masih tetap negatif, BPR itu bera untuk tetap dipertahankan. Kalau yang terjadi di BPR CDM, pemiliknya salah manage dan sebaiknya masyarakat juga harus hati-hati," kata Ratna.

Kendati demikian, kebanyakan bank yang masuk ke dalam DPK berhasil keluar setelah mendapat bantuan penyehatan. Ratna menyebutkan, keberhasilan untuk keluar itu terjadi karena banyak BPR yang memiliki kegiatan operasional yang baik namun harus dalam daftar karena kekurang aset.

"Ada kalanya BPR hanya punya aset Rp15 juta namun mampu bertahan selama 25 tahun. Itu kan sebenarnya BPR yang bagus tetapi mereka harus mendapat pengawasan karena BI mengharuskan BPR memiliki modal sampai ratusan juta rupiah," paparnya. (rhs)

berikan komentar anda

Login untuk komentar

Login
0 komentardisclaimer

    berita lainnya

    Baca Juga

    Semakin Macet, Harga Tanah di Bogor Makin Mahal