GARUT - Akibat semakin berkembangnya penggunaan teknologi, penjualan prangko di PT Pos Cabang Garut menalami penurunan hingga 26 persen sejak 2006 lalu.
Menurut Kepala PT Pos cabang Garut Afdirizal, penjualan prangko pada 2006 mencapai Rp448 juta, sedangkan di 2007 penjualan prangko mengalami penurunan hanya mendapatkan hasil sekitar Rp346 juta saja.
"Penurunan omset ini, karena banyak masyarakat memilih menggunakan teknologi yang lebih maju seperti hand phone. Jadi untuk mengirim surat tinggal menggunakan email dan short messege servis (SMS) dari pada melalui jasa pos," tuturnya, di Garut, Jawa Barat, Sabtu (19/7/2008).
Pengguna prangko di Kab Garut sendiri lanjut Rizal, di dominasi oleh masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah. Sedangkan bagi masyarakat menengah ke atas, lebih banyak menggunakan jasa pengiriman jenis kilat khusus.
"Hobi surat-menyurat di Negara berkembang seperti Indonesia ini, memang sangat kurang bila dibandingkan dengan negara-negara maju seperti AS. Dalam satu tahun mereka mampu mengirim surat sebanyak 98 kali, sedangkan di kita hanya sekitar 0,08 persen per tahun," Terangnya.
Namun meskipun demikian, pihaknya optimis produktifitas menulis bangsa Indonesia akan mengalami kemajuan. Sementara untuk mendongkrak kenaikan penjualan prangko, pihaknya kini tengah mendesain prangko yang memiliki nilai seni, agar diminati masyarakat.
"Selain itu kami pun saat ini tengah gencar menggelar wisata pos bagi siswa TK dan SD," ujarnya.
Dengan kegiatan tersebut diharapkan minat untuk menggunakan jasa pos dapat tumbuh pada diri anak. Sehinga dikala dewasa nanti mereka dapat memanfaatkan jasa pos dalam keperluan sehari-harinya. (Sigit Zulmunir/Trijaya/rhs)