LONDON - Posisi nilai tukar euro kini dalam keadaan yang lemah. Berbagai faktor telah menyeret mata uang Uni Eropa (UE), termasuk perang antara Rusia dan Georgia.
Perang yang tengah menjadi perhatian dunia ini juga menyerang nilai mata uang euro. Tidak hanya perang di wilayah Eropa Timur tersebut, pelambatan ekonomi negara juga menekan laju euro terhadap mata uang lainnya seperti USD dan yen.
Pada perdagangan Senin 11 Agustus waktu setempat, euro ditutup di posisi 1,4969 per USD setelah sempat bertahan di level 1,4907 per USD pada perdagangan Asia. Pelemahan ini merupakan yang terendah sejak 26 Februari 2008 di posisi 1,5013 per USD.
"Para pelaku pasar banyak yang melepas euro. Mereka menilai Perang Rusia Georgia menjadi indikasi negatif. Dikhawatirkan, suplai minyak akan terganggu," Chuo Mitsui Trust Bank Satoshi Tansho, seperti dikutip AFP, Selasa (12/8/2008).
Sekadar diketahui, Georgia bukanlah negara produsen minyak. Tapi, posisinya yang strategis membuat Georgia berperan sebagai titik transit ekspor migas dari Azerbaijan yang terletak di selatan Rusia. Gas itu merupakan suplai bagi Eropa Barat.
Sejumlah pelaku pasar meyakini roda greenback yang belakangan diungguli euro, akan berbalik. "Pelaku pasar kini meyakini ekonomi Amerika Serikat akan meninggalkan krisis dengan cepat. Sikap The Fed yang tanggap akan keadaan pasar mampu membenahi ekonominya," ujar seorang analis Commerzbank. (rhs)