Investor Timur Tengah Minati Pembangkit Listrik di Riau

Widi Agustian - Okezone
Kamis, 16 Oktober 2008 15:16 wib
foto: ist
foto: ist
JAKARTA - Investor asing asal Timur Tengah dan Malaysia tertarik menanamkan modalnya untuk pembangunan pembangkit listrik di Riau. Selain itu, beberapa investor lokal pun juga berminat.

"Saat ini telah ada yang tertarik untuk membangun pembangkit di Riau antara lain berasal dari Timur Tengah, Malaysia, dan pihak lokal," ujar Direktur Utama PLN Fahmi Mochtar, usai seminar bertajuk Pengembangan Infrastruktur Energi Nasional di kantor Bappenas, Jalan Taman Suropati, Jakarta, Kamis (16/10/2008).

Fahmi menjelaskan, dari pihak-pihak yang tertarik tersebut, nantinya akan dilakukan beauty contest untuk mengetahui kemampuan keuangannya. "Nanti kita seleksi yang punya uang atau tidak. Jika tidak, tidak boleh," tegasnya.

Fahmi memaparkan, saat ini investor dari Timur Tengah ini menggandeng perusahaan dalam negeri dan sudah mengajukan tata letak di Riau serta mulut tambang PT Perusahaan Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA).

"Kapasitasnya sebesar 2x100 megawatt (MW). Sehingga, produksi batu bara yang ada di lokasi tersebut lebih dari cukup untuk dua pembangkit tersebut," ujarnya.

Dia mengatakan, konstruksi pembangkit tersebut akan dimulai pada 2009 dan direncanakan mulai beroperasi pada 2012. Adapun besarnya investasi yang dibutuhkan sebesar USD200 juta.

Di samping itu, Dirjen Listrik dan Pemanfaatan Energi Departemen ESDM J Poernomo, membenarkan bahwa memang ada peminat untuk membangun pembangkit di Riau. "Perusahaannya sudah minat di Riau, sekarang sedang dijajaki dengan PLN," ujar Poernomo.

Dia menjelaskan, saat ini Riau sedang membutuhkan listrik. Pasalnya, selama ini memang terjadi ketidakseimbangan pasokan listrik di Sumatra.

"Pembangkit yang ada hanya di Sumatra Selatan dan Sumatra Utara, sedangkan yang di Sumatra Tengah kosong. Untuk itu lah kita welcome terhadap permintaan mereka," jelasnya.

Dia menambahkan, untuk Sumatra, pembangkit yang akan dibangun berdaya 2x100 MW atau paling besar 2x150 MW. "Karena jika ingin membangun yang berdaya 2x200 MW atau 2x250 MW investasi yang harus dikeluarkan adalah USD300 juta," tutupnya. (css) (ade)
TWITTER »
twit