Pakan ternak. (foto: Intraco Indonusa.com)
JAKARTA - Produsen pakan ternak, PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) hingga kuartal III-2008 mencatat laba bersih Rp253,396 miliar meningkat 64 persen dibanding periode yang sama 2007 sebesar Rp154 miliar. Penjualan bersih menjadi pemicu peningkatan tersebut.
Direktur Utama Japfa Handojo Santosa mengatakan, penjualan bersih naik 47 persen menjadi Rp8,33 triliun dibandingkan periode sebelumnya Rp5,63 triliun. "Penjualan bersih disumbangkan oleh penjualan pakan ternak yang naik 37 persen," katanya, di Jakarta, Rabu (12/11/2008).
Pada pos laba usaha, Japfa mencatat kenaikan 48 persen menjadi Rp559,8 miliar dari periode sebelumnya Rp377,3 miliar. Sedangkan pendapatan usaha tercatat Rp8,332 triliun atau naik dibandingkan periode sebelumnya Rp5,639 triliun.
Di pos beban pokok penjualan mengalami peningkatan 51 persen menjadi Rp7,038 triliun dari sebelumnya Rp4,637 triliun. Sebelum dipotong pajak dan lain lain, didapat laba kotor sebesar Rp1,292 triliun dengan kenaikan 29 persen dibanding periode yang sama tahun 2007 sebesar Rp1,001 triliun. "Sedangkan laba per saham dasar naik 65 persen menjadi Rp170 dari sebelumnya Rp103," katanya.
Direktur Keuangan Japfa Herry Wibowo mengatakan, total aktiva perseroan tercatat Rp5,078 triliun atau naik Rp1,034 triliun (25,59 persen) dibandingkan periode yang sama 2007 sebesar Rp4,058 triliun. Peningkatan ini disebabkan oleh naiknya nilai piutang usaha sebesar Rp311,8 miliar (71,83 persen), nilai persediaan sebesar Rp494 miliar (35,59 persen), nilai ayam pembibit turunan sebesar Rp32,144 miliar (15,63 persen) dan nilai aktiva tetap sebesar Rp187,947 miliar (13,41 persen).
Menurut Herry, peningkatan piutang usaha, persediaan dan ayam pembibitan turunan sejalan dengan peningkatan aktivitas operasi perseroan dan anak usahanya. Adapun peningkatan nilia buku aktiva tetap terutama karena pembangunan pabrik pakan ternak baru di Padang dan Banjarmasin serta akusisi perusahaan baru.
Sedangkatan total kewajiban tercatat Rp3,864 triliiun atau naik sebesar Rp777,029 miliar (25,17 persen) dibandingkan periode sebelumnya Rp3,119 miliar. Peningkatan ini disebabkan naiknya nilai utang bank sebesar Rp449,521 miliar (172,74 persen), utang usaha sebesar Rp163,152 mliar (36,58 persen) dan biaya yang masih harus dibayar sebesar Rp69,667 miliar (38,83 persen).
Peningkatan utang bank menunjukkan adanya tanabhaan penggunaan sumebr poerndanaan guna melakukan pebangunan sejumlah faislitas produksi dan modla kerja.
Di samping itu, dampak dari akusisi perusahaan baru telah mempengaruhi peningkatan utang usaha dan biaya yang masih harus dibayar sejalan dengan peningkatan aktivitas operasi perseroan.
"Dampak perubahaan tersebut sangat positif bagi perseroan dan anak perusahaan karena dapat meningkatkan kinerja keuangan, modal kerja dan kapasitas produksi yang akan berdampak pada peningkatan laba bersih perseroan dan anak perusahaan," imbuhnya. (Whisnu Bagus /Sindo/rhs)