Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Foto: Widi Agustian/okezone.com
JAKARTA - Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menyebutkan bahwa pemerintah dan pembeli asal Korea Selatan dan China mempunyai opsi merevisi harga jual gas Tangguh setiap empat tahun sekali sejak 2009.
Sebelumnya, pemerintah telah membentuk tim yang diketuai Menkeu Sri Mulyani dengan tugas merenegosiasi harga jual Tangguh, karena dinilai terlalu rendah.
Rencana renegosiasi tersebut terlontar saat harga minyak lebih dari USD100 per barel, sementara kini harga minyak hanya sekira USD50 per barel.
Harga jual LNG Tangguh saat kontrak disepakati pada 2002 hanya USD 2,4 per MMBTU, dengan patokan harga minyak mentah USD 25 per barel.
Namun, harga Tangguh telah direvisi menjadi USD3,8 per MMBTU pada 2006. Harga Tangguh itu lebih rendah dibandingkan kilang lain, seperti Kilang Bontang yang mencapai USD20 per MMBTU pada harga minyak USD110 per barel.
"Kalau dengan harga minyak sekarang, maka harga LNG Tangguh hanya USD3,4 per MMBTU, sementara harga Tangguh yang sudah disepakati di 2006 mencapai USD3,8 per MMBTU. Jadi, lebih rendah," katanya.
Proyek LNG Tangguh dikerjakan konsorsium yang dipimpin perusahaan migas asal Inggris, BP Plc. Pemerintah menjadwalkan produksi pertama gas Tangguh dapat dimulai Juli 2009. (ade)