Getting time...

APPI: Perusahaan Pembiayaan Masih Tumbuh

Kamis, 4 Juni 2009 17:06 wib
Ilustrasi. Foto: Corbis
Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menyatakan perusahaan pembiayaan (multifinance) masih bisa menunjukkan pertumbuhan di tengah krisis keuangan global. Kondisi ekonomi yang terjadi hingga semester I-2009 mengarah positif dan tidak seburuk yang dibayangkan.

"Kita akan merevisi proyeksi kinerja multifinance di 2009. Sampai pertengahan tahun ini kondisi ekonomi dan multifinance tidak seburuk perkiraan bahkan cenderung positif," ujar Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Wiwie Kurnia, di Jakarta, Kamis (4/6/2009).

Menurut Wiewie, sebelumnya APPI memproyeksikan pertumbuhan pembiayaan multifinance mencapai minus 30 persen dan rasio kredit bermasalah akan melonjak melebihi 2,5 persen. Namun, dengan perbaikan ekonomi dan gambaran sampai pertengahan tahun, industri ini masih memperlihatkan ketahanannya.

"Dengan mulai membaiknya ekonomi kami memperkirakan penurunan industri multifinance hanya akan ada di kisaran 10-15 persen dari perkiraan sebelumnya minus 30 persen. Begitu juga dengan non-performing loan (NPL), saat ini masih berada di level 2,1 persen," paparnya.

Meski begitu, Wiwie mengingatkan industri multifinance tetap membutuhkan peran perbankan dalam menjalani krisis ini. Saat ini bank masih memberikan bunga yang sangat tinggi untuk pembiayaan ke multifinance. Pada waktu sebelum krisis suku bunga di kisaran 12-14 persen dan saat krisis sempat meningkat pesat menjadi 18-20 persen. Saat ini, perbankan memang sudah menurunkan ke level 14-16 persen, namun angka tersebut masih terlalu tinggi.

Wiwie mengingatkan, saat ini porsi pembiayaan dari bank masih merupakan mayoritas. Bahkan, lebih dari 78 persen pembiayaan multifinance bersumber dari perbankan. Dengan porsi ini, total dana bank yang mengalir ke industri ini mencapai lebih dari Rp110 triliun sehingga persoalan suku bunga merupakan salah satu faktor penyebab pelemahan di industri multifinance.

"Jadi kalau industri ini turun sampai 30 persen maka penurunan sebanyak 15 persen disebabkan berkurangnya permintaan. Akan tetapi, 15 persen lagi disebabkan tight money policy oleh bank," ujar Wiwie.

Wiewie menuturkan saat ini jumlah multifinance berkurang dari 212 menjadi 209 perusahaan dibandingkan tahun lalu. Namun, total aset tetap tumbuh dari Rp168,5 triliun di 2008 menjadi Rp172 triliun per Februari 2009. Sedangkan pembiayaan, susut dari Rp137,2 triliun per Desember menjadi Rp137,1 triliun per Februari. (Tomi Sujatmiko/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit