Foto: corbis
JAKARTA - Pengamat perbankan meminta Bank Indonesia (BI) untuk mengurangi penempatan dana perbankan di sertifikat bank Indonesia (SBI) melalu penurunan suku bunga SBI (SBI Rate) secara bertahap. Langkah ini memberi peluang bagi bank untuk meningkatkan penyaluran kredit dan menjaga kondisi likuiditasnya.
Ekonom Senior The Intelligence Economic Indonesia (IEI) Djoko Retnadi mengatakan untuk meningkatkan ekspansi kredit perbankan ataupun mengurangi simpanan perbankan dalam SBI, BI bisa melakukan penurunan suku bunga SBI (SBI Rate) bahkan mendekati suku bunga acuan BI Rate.
Kebijakan tersebut bisa juga menciptakan peluang bagi bank untuk memperoleh tambahan likuiditasnya. Namun, kebijakan mengarahkan bunga SBI ke level BI Rate harus dilakukan tidak secara drastis karena penurunan suku bunga SBI yang mengagetkan pasar akan mengganggu penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD.
"Apakah BI sudah siap menanggung konsekuensi jika rupiah sulit menembus di bawah level psikologis akibat terjadi capital outflow? Hendaknya hal tersebut dilakukan secara bertahap," jelasnya di Jakarta, Selasa (9/6/2009).
Djoko menuturkan penurunan suku bunga SBI tetap harus dilakukan agar perbankan dapat mengatur portofolio dananya ke pasar uang antarbank dan meningkatkan pembiayaan. Sementara di sisi lain, langkah untuk mengurangi dana di SBI akan mendorong peningkatan likuiditas di sektor keuangan dan berpotensi memicu kenaikan harga-harga hingga membuat rupiah tertekan.
"BI tetap harus menurunkan suku bunga. Perbankan juga bisa mengurangi dana di SBI dan memindahkannya ke instrumen surat utang negara agar bisa digunakan untuk memperkuat anggaran," paparnya.
(Tomi Sujatmiko/Koran SI/ade)
Ekonom Senior The Intelligence Economic Indonesia (IEI) Djoko Retnadi mengatakan untuk meningkatkan ekspansi kredit perbankan ataupun mengurangi simpanan perbankan dalam SBI, BI bisa melakukan penurunan suku bunga SBI (SBI Rate) bahkan mendekati suku bunga acuan BI Rate.
Kebijakan tersebut bisa juga menciptakan peluang bagi bank untuk memperoleh tambahan likuiditasnya. Namun, kebijakan mengarahkan bunga SBI ke level BI Rate harus dilakukan tidak secara drastis karena penurunan suku bunga SBI yang mengagetkan pasar akan mengganggu penguatan nilai tukar rupiah terhadap USD.
"Apakah BI sudah siap menanggung konsekuensi jika rupiah sulit menembus di bawah level psikologis akibat terjadi capital outflow? Hendaknya hal tersebut dilakukan secara bertahap," jelasnya di Jakarta, Selasa (9/6/2009).
Djoko menuturkan penurunan suku bunga SBI tetap harus dilakukan agar perbankan dapat mengatur portofolio dananya ke pasar uang antarbank dan meningkatkan pembiayaan. Sementara di sisi lain, langkah untuk mengurangi dana di SBI akan mendorong peningkatan likuiditas di sektor keuangan dan berpotensi memicu kenaikan harga-harga hingga membuat rupiah tertekan.
"BI tetap harus menurunkan suku bunga. Perbankan juga bisa mengurangi dana di SBI dan memindahkannya ke instrumen surat utang negara agar bisa digunakan untuk memperkuat anggaran," paparnya.