Ilustrasi
JAKARTA - Aliran dana jangka pendek dari luar (hot money) diperkirakan berlangsung hingga September. Investor perlu mewaspadai berbaliknya aliran dana selepas kuartal III-2009.
Direktur Penelitian Reliance Securities Steve Susanto mengatakan, pada awalnya hot money masuk karena melihat potensi keuntungan yang masih tinggi di pasar modal Indonesia. Namun, kecemasan muncul ketika indeks harga saham sabungan melampaui level 2.000 pada bahkan sempat menembus 2.100 pekan lalu.
Kecemasan ini lantaran kenaikan indeks dinilai terlalu cepat. "Asing melihat masih ada keuntungan, tetapi sudah mengkhawatirkan. Terlebih sekarang level 2.100, ini posisi rawan," ujarnya, kemarin. Dia menambahkan, rawannya kondisi pasar bisa dilihat sejumlah saham yang sudah terlalu mahal, misalnya saham-saham energi, sehingga aksi ambil untung dalam skala masif bisa terjadi bila ada sedikit sentimen negatif.
Menurut Steve, arus hot money akan ditentukan oleh tiga hal. Pertama, faktor dalam negeri berupa laporan keuangan emiten kuartal II-2009.Kedua, pergerakan harga minyak dunia. "Siklus ini mirip dengan tahun lalu, yang digerakkan oleh para spekulan,"ujarnya. Lebih lanjut dia menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia hingga ke level USD72 per barel di tengah perekonomian global yang belum sepenuhnya pulih menjadi indikasi adanya peran spekulan.
Bila ini terjadi, tren inflasi rendah lambat laun akan berbalik. Faktor terakhir adalah posisi nilai tukar dolar Amerika Serikat. Depresiasi yang dialami dolar bisa saja berbalik dan penguatannya bisa menghentikan arus hot money, meskipun itu tidak mencerminkan fundamental ekonomi AS sudah pulih.
"Itu (pulihnya ekonomi AS) hanya persepsi pasar," tandas Steve. Lepas dari itu, dia memperkirakan dalam beberapa bulan mendatang IHSG masih bisa bertengger di level 2.200. Namun, sekali lagi dia mengingatkan agar investor waspada menghadapi kemungkinan terburuk.
"Sampai pertengahan tahun lalu, tidak ada yang mengira indeks akan turun drastis," ungkap Steve, mengacu kejatuhan IHSG pada Oktober tahun lalu. Secara terpisah, analis BNI Sekuritas Muhammad Alfatih mengatakan level 2.000 adalah level kritis yang menentukan tren jangka menengah IHSG.
Dalam beberapa bulan ke depan, bila indeks sampai jatuh lagi ke level 1.900, maka besar kemungkinan akan terjadi tren penurunan. Statistik pasar modal per pekan yang dirilis Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam LK) menunjukkan kapitalisasi pasar saham memang meningkat secara bertahap.
Rata-rata setiap pekan pada Mei lalu mencapai Rp1.400 triliun. Ini lebih tinggi dibandingkan data mingguan pada April yang tercatat Rp1.300 triliun,Maret Rp1.100 triliun, dan Februari Rp1.000 triliun. Ini dikonfirmasikan dengan reli indeks saham yang memang mulai melaju kencang pada awal Maret (level 1.256,1 pada 2 Maret 2008) hingga menembus 2.010 (3 Juni 2008).
Arus deras hot money tidak hanya masuk bursa saham melainkan juga pasar obligasi. Pekan lalu, misalnya, rata-rata perdagangan surat utang negara (SUN) mencapai Rp5,3 triliun, lebih tinggi dibandingkan pekan sebelumnya, yang juga dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah dunia.
Data Penerima Laporan Transaksi Obligasi PT Bursa Efek Indonesia (PLTO BEI) bahkan menunjukkan transaksi sempat menyentuh Rp7 triliun,Rabu (10/6/2009). Ketua Bapepam LK Ahmad Fuad Rahmany sebelumnya mengatakan pasar modal memang sudah pulih tetapi masih rawan.
Meski perekonomian Indonesia membaik, kondisi AS yang masih simpang siur berpengaruh besar terhadap pergerakan indeks saham. "Kita belum tahu kondisi ini sudah recover atau belum,"ungkapnya. (css) (Muhammad Ma'ruf/Koran SI/rhs)