Foto: Koran SI.
LONDON - Inflasi kembali menjadi isu penting dalam pasar keuangan global minggu depan. Ancaman inflasi terjadi setelah harga minyak mentah melonjak ke level USD70 per barel, penguatan bunga obligasi yang memicu naiknya biaya pinjaman, dan lesunya sektor perumahan.
Rangkaian inflasi bulan Mei terlihat di Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Zona Euro.Hal itu akan menjadi perhatian investor setelah minyak naik 20 persen dan bunga obligasi Pemerintah AS 10 tahun naik ke posisi 4 persen.
"Kami melihat tekanan inflasi akan menjadi perhatian utama dalam minggu-minggu yang akan datang," kata Barclays Capital dalam risetnya, seperti dikutip Reuters.
Barclays menilai bahwa pemulihan ekonomi tertahan dan itu dipicu oleh penguatan harga saham, komoditas, serta aset-aset di pasar negara berkembang. Barclays memaparkan, stimulus ekonomi dan program Bank Sentral AS (Fed) dinilai berhasil menekan suku bunga pada level rendah. Namun, kekhawatiran menguat akibat besarnya emisi obligasi Pemerintah AS. Sebab,ini bisa memicu kenaikan biaya pinjaman dan inflasi.
"Ada pendapat yang mengatakan bahwa pada saat kapasitas terbuka, inflasi akan tetap rendah untuk waktu yang lama, tapi pasar tidak percaya pendapat ini," ujar senior ekonom Standard Chartered Sarah Hewin. Paul Mortimer Lee dari BNP Paribas meramalkan, bunga obligasi akan turun pada semester II-2009.
"Ada legitimasi atas kekhawatiran inflasi. Salah satunya obligasi Pemerintah AS," tutur dia.
Penguatan 40 persen pada emerging equities selama 2009 dan kenaikan 50 persen developed stocks dibandingkan posisi bulan Maret menggambarkan bahwa kekuatan reli di pasar saham mulai kehabisan tenaga. Kenaikan bunga obligasi Pemerintah AS juga memperkuat hal ini. Saham global telah menyentuh posisi tertinggi selama 8,5 bulan terakhir. (Achmad Senoadi/Koran SI/rhs)