JAKARTA - Akhirnya pengiriman perdana kargo liquefied natural gas (LNG) telah diberangkatkan dari lokasi proyek LNG Tangguh di Papua Barat, Indonesia menuju terminal LNG Posco di Gwangyang, Korea Selatan dengan menggunakan kapal Tangguh Foja pada Senin (6/7/2009) ini.
Sebelumnya, Dirjen Migas Departemen ESDM Evita Legowo memastikan pengiriman perdana gas LNG dari blok Tangguh dilakukan paling lambat Sabtu 4 Juli malam. Namun ternyata, pengiriman gas tersebut baru bisa dilakukan hari ini.
Adapun ekspor pertama ini menandakan mulai beroperasinya proyek Tangguh dalam kurun waktu kurang lebih empat tahun, sejak mendapat izin resmi dari pemerintah Indonesia pada Maret 2005. Selain itu, nilai investasi proyek ini mencapai sekira USD5 miliar.
"Sebagai sentra LNG Indonesia yang ketiga, pengiriman kargo pertama ini diharapkan akan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen LNG di dunia, di samping juga sebagai salah satu sumber penambahan penerimaan negara," ujar Kepala BP Migas R Priyono, dalam keterangan tertulis yang diterima wartawan, di Jakarta, Senin (6/7/2009).
Proyek LNG Tangguh merupakan salah satu proyek yang dinilai berhasil. Selain mampu menyerap tenaga lokal dan nasional hingga lebih dari 10 ribu pekerja di masa puncak proyek, penyelesaian proyek Tangguh juga termasuk yang tepat waktu, apalagi bila dilihat dari lokasinya yang terpencil dengan segala keterbatasan infrastruktur, serta prasarana dan sarana pendukung lainnya.
Presiden BP Indonesia William Lin mengungkapkan, pencapaian penting ini merupakan hasil langsung dari gabungan keahlian dan komitmen yang terpadu dari para karyawan, mitra kerja, dan kontraktor Indonesia dan luar negeri.
"LNG Tangguh merupakan contoh gemilang dari apa yang dapat dicapai dengan perencanaan dan manajemen proyek yang ketat dan dukungan penuh dari pemerintah serta masyarakat setempat." jelasnya.
Sekadar informasi, Blok Tangguh terdiri dari enam lapangan gas dari kontrak kerja sama Wiriagar, Berau, dan Muturi di daerah Bintuni, Papua Barat. Gas yang diproduksi dari dua anjungan lepas pantai tak berawak ini disalurkan melalui pipa sepanjang 22 kilometer ke dua kilang pencair gas, masing-masing dengan kapasitas produksi LNG 3,8 juta ton per tahun. Train 1 memulai produksi LNG untuk kargo pertama ini pada pertengahan Juni sementara Train 2 diharapkan mulai beroperasi pada kuartal ini juga.
Tangguh dioperasikan oleh BP Indonesia, dengan saham 37,16 persen, kontraktornya dijalankan kepada Badan Pengelola Minyak dan Gas (BPMigas). Mitra lain dalam proyek tersebut adalah MI Berau BV (16,3 persen), CNOOC Ltd (13,9 persen), Nippon Oil Exploration (Berau) Ltd (12,23 persen), KG Berau/KG Wiriagar (10 persen), LNG Japan Corporation (7,35 persen), dan Talisman (3,06 persen).
Proyek Tangguh memiliki kontrak jangka panjang untuk mensuplai 2,6 juta ton LNG per tahun kepada terminal LNG Fujian di Cina, 1,15 juta ton per tahun kepada K-Power dan Posco di Korea Selatan, dan kontrak fleksibel untuk mensuplai hingga 3,7 juta ton per tahun ke terminal LNG Sempra di Baja California, Meksiko.
Kontraktor utama untuk proyek Tangguh adalah konsorsium KBR (melalui anak perusahaannya di Indonesia PT Brown & Root Indonesia), JGC Corporation, dan PT Pertafenikki-juga dikenal sebagai KJP, untuk fasilitas LNG di darat dan Saipem untuk konstruksi lepas pantai dan bawah laut.
Selain itu, proyek Tangguh telah menerapkan pendekatan terpadu terhadap pengembangan dan dampaknya terhadap masyarakat lokal. Berbagai program sosial terpadu telah dilakukan, termasuk pengamanan terpadu berbasis masyarakat serta komitmen untuk meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat lokal selama fase konstruksi dan operasional.
Berbagai kegiatan terus berlangsung dalam berbagai tingkat, mulai dari tingkat program di desa-desa terdekat dengan proyek hingga berbagai inisiatif di tingkat kabupaten, daerah Kepala Burung, dan di seluruh Papua. (ade)