Getting time...

Tak Ada Monopoli Produksi Benih Kakao

Minggu, 12 Juli 2009 13:25 wib
Foto: corbis
Foto: corbis
JAKARTA - Departemen Pertanian (Deptan) menegaskan perbanyakan benih kakao melalui teknologi somatic embriogenesis (SE) bukan monopoli. Sebab, teknologi tersebut kini hanya bisa dilakukan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember yang telah mendapat hak pengembangan oleh Nestle, perusahaan multi nasional asal Prancis.

Direktur Perbenihan dan Sarana Produksi, Ditjen Perkebunan Deptan, Darmansyah Basyaruddin mengatakan, benih kakao yang dihasilkan Puslitkoka, merupakan hasil teknologi SE yang berasal dari Nestle. Bahkan lembaga penelitian yang berlokasi di Jember itu sudah mendapatkan property right mengembangkan benih kakao di Indonesia.

Berbeda dengan cara konvensional, perbanyakan benih dengan teknologi kultur jaringan SE mempunyai banyak keuntungan. Selain lebih mudah dilakukan, benih yang dihasilkan mirip induknya dan dapat memproduksi dalam jumlah besar dengan cepat. "Tahun ini saja diperlukan 20 juta benih," katanya di Jakarta, akhir pekan lalu.

Karena itu, Darmansyah menegaskan, jika ada pihak lain yang bisa menawarkan teknologi perbanyakan benih dengan cepat dan sebagus SE, pemerintah bisa mengadopsi teknologi tersebut. Tapi saat ini baru Puslitkoka, Jember saja yang memegang property right teknologi SE dari Nestle.

"Jadi tidak ada monopoli, karena tidak ada teknologi lain. Teknologi ini juga sudah digunakan di Ekuador, sedangkan di Thailand untuk perbanyakan benih kopi," ujarnya.

Dari penelitian dengan teknologi SE sudah ada lima klon benih unggul yang dihasilkan yakni Sulawesi 1, Sulawesi 2, ICCRI 03, ICCRI 04 dan SKA 6.

Klon tersebut merupakan pengembangan klon-klon unggul di Indonesia yang tahan terhadap hama penyakit penggerek buah kakao (PBK) dan VSD.

"Klon-klon tersebut sudah dinyatakan sebagai klon unggul sesuai surat keputusan Menteri Pertanian," katanya.

Sementara itu Direktur Tanaman Rempah dan Penyegar, Ditjen Perkebunan, Rizki Muis menambahkan, klon hasil dari teknologi SE tersebut bukan hanya tahan terhadap hama penyakit, tapi juga sangat adaptif terhadap kondisi alam di wilayah pengembangan. "Klon tersebut diambil dari sentra produksi kakao, sehingga lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan," katanya.

Dikatakan, pengembangan benih unggul melalui SE merupakan bagian dari program Gerakan Nasional (Gernas) Peningkatan Produksi dan Mutu Kakao.

Program tersebut bertujuan untuk memperbaiki tanaman kakao rakyat yang rusak dan sudah tua. Pada 2008 diperkirakan ada sekira 70 ribu ha kebun kakao rusak, 235 ribu ha rusak sedang dan 145 ribu ha kurang terpelihara. Bahkan sebagian besar kebun kakao itu berlokasi di Indonesia bagian timur.

"Kondisi itu terjadi karena serangan hama penyakit, umur tanaman yang sudah tua dan kurangnya perawatan kebun oleh petani," katanya.

Karena itu hingga 2011, pemerintah menetapkan sasaran perbaikan kebun kakao rakyat seluas 450 ribu ha. Dengan perincian areal yang akan diremajakan seluas 70 ribu ha, rehabilitasi 235 ribu ha dan intensifikasi sekira 145 ribu ha.

Tahun ini pemerintah akan meremajakan 20 ribu ha tanaman kakao milik petani yang sudah tua dan tidak produktif lagi. Sedangkan program rehabilitasi melalui sistem sambung samping dengan klon unggul seluas 60 ribu ha dan intensifikasi seluas 65 ribu ha.

Dengan program perbaikan itu pemerintah mengharapkan produktivitas tanaman kakao rakyat bisa kembali normal hingga mencapai 1,5 ton per ha. Sekarang ini karena banyak yang rusak dan terserang hama penyakit produktivitas tanaman kakao hanya 500-600 kg per ha.

Pada tahun ini, pemerintah menetapkan 40 kabupaten di sembilan provinsi yang menjadi target Gernas. Kesembilan provinsi itu yakni Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Bali, NTT, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Untuk program ini telah dianggarkan dana melalui APBN 2009 sebanyak Rp1 triliun.

Tahun depan pemerintah akan menaikkan anggaran menjadi Rp1,5 triliun dengan target areal diperluas di 57 kabupaten di 15 provinsi sentra produksi kakao. Selain provinsi yang sudah mendapat dilakukan program Gernas, provinsi lainnya adalah Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Gorontalo, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat dan NTB. (Sudarsono/Koran SI/ade)
  • abi maulana » 0 Tanggapan
    saya di Kota Sawahlunto, ingin mengembangkan kakao SE..saya mau beli kakao SE dalam bentuk biji..(benih). dimana saya bisa dapatkan?
    Beri Tanggapan Laporkan
Terimakasih atas bantuan Anda melaporkan komentar ini.
TWITTER »
twit