o1 o2

Economy - ekonomi


Ekonomi Dunia Hadapi Ancaman Baru

Rabu, 15 Juli 2009 - 07:29 wib
text TEXT SIZE :  
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Widi Agustian/okezone.com

JAKARTA - Selepas krisis keuangan global, perekonomian dunia masih akan menghadapi tekanan baru pada 2010-2011. Pada periode itu, risiko APBN negara-negara maju diperkirakan semakin meningkat.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan, risiko tersebut muncul akibat pembengkakan defisit selama krisis ekonomi global yang mendorong banyak negara maju menganggarkan stimulus fiskal dalam jumlah besar. "Defisit yang sangat besar membuat masalah baru, yaitu sustainabilitas APBN negara maju," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Sri Mulyani mencontohkan, tahun ini saja defisit anggaran Amerika Serikat (AS) mencapai 12,3 persen akibat banyaknya dana yang dikeluarkan untuk membiayai dampak krisis. Negara maju lainnya seperti Inggris memperkirakan defisit anggaran tahun ini sebesar 10 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)-nya yang mencapai sekira USD3.000-USD3.500 triliun. "Dalam satu tahun, Inggris mencetak utang baru hampir USD400 miliar," imbuh dia.

Tidak sehatnya kondisi APBN yang saat ini sudah dirasakan AS dan Inggris, papar Menkeu, membuat pencetakan uang melonjak. Kondisi ini menyebabkan inflasi yang mematikan proses pemulihan krisis dan membanjirnya penerbitan surat berharga pada tahun depan hingga 2011. "Ini semua magnitudo dari krisis global," kata dia.

Dari sisi defisit, Indonesia jauh di bawah negara-negara lain. Pada tahun ini, pemerintah memproyeksikan defisit anggaran 2,5 persen dari PDB atau setara Rp133,1 triliun. Defisit ini sudah membengkak dari proyeksi awal sebesar satu persen PDB atau Rp51,3 triliun, sebelum pemerintah mengalokasikan stimulus fiskal sebesar Rp73,3 triliun.

Lewat stimulus fiskal, Sri Mulyani menuturkan, perekonomian diharapkan tidak terlalu dalam terkontraksi. "Tetapi ini membuat defisit melonjak tinggi," katanya. Seluruh negara juga mengekspansi kebijakan moneter dengan menurunkan suku bunga acuan secara agresif untuk memulihkan kondisi ekonomi.

Menkeu menyebutkan, sejak November, Inggris dan Brasil telah memangkas suku bunga acuannya hingga 450 basis point (bps). Sementara negara lain rata-rata 200-250 bps. "Indonesia termasuk dalam kisaran ini," imbuhnya. Suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) saat ini mencapai 6,75 persen.

Sejalan dengan kebijakan-kebijakan dadakan tersebut, Sri Mulyani mengatakan, perekonomian dunia mulai menunjukkan tanda pemulihan sekira April atau Mei lalu. Krisis keuangan global dianggap sudah menyentuh titik terburuknya dan mulai berbalik arah. Pemulihan ini diharapkan berlanjut pada tahun depan.

"Namun APBN AS dan Inggris yang tidak sehat membuat kekhawatiran baru pada 2010 sampai 2011," kata Sri Mulyani.

Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Depkeu Rahmat Waluyanto juga mengakui, ke depan pasar akan dibanjiri surat utang lantaran banyak negara harus membiayai stimulus fiskal. "Ini membuat market semakin jenuh," katanya.

Namun, menurut dia, daya serap pasar Indonesia masih cukup tinggi sehingga mampu memenuhi kebutuhan pembiayaan dalam negeri. Rahmat juga meyakini, permintaan surat utang Indonesia di pasar internasional masih cukup tinggi mengingat fundamental domestiknya terbilang stabil.

Terbukti, pada kuartal I-2009, Indonesia berhasil mencetak pertumbuhan ekonomi positif 4,4 persen sementara kebanyakan negara lain terperosok. Seiring dengan ini, peringkat utang Indonesia diperbaiki dari stabil menjadi positif.

Bahkan, beberapa waktu lalu, kata dia, Japan Rating Agency memperbaiki peringkat kredit Indonesia dari BB menjadi BB+. "Itu menambah daya tarik obligasi negara kita di pasar internasional," imbuhnya. (meutia rahmi)(Koran SI/Koran SI/ade)

 Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?
Share
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini di http://m.okezone.com
o1 o2
o1 o2

0 komentar

[+lihat komentar]


o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4