Jusuf Kalla. Foto: Koran SI
JAKARTA - Dalam mencari uang, orang tidak akan pernah menggubris dampak lain selama dagangan yang ditawarkannya menangguk untung banyak dan para pedagang itu tidak terimbas. Termasuk ketika ada dua bom yang meledak di kawasan Kuningan, Jakarta, akhir pekan lalu.
Namun kondisi tersebut akan berbanding terbalik apabila keadaan aman namun pedagang tidak menghasilkan untung sama sekali dari barang yang dijajakannya.
"Orang berdagang di mana pun, selama masih bisa untung kenapa tidak? Jadi orang berdagang itu tidak peduli kadang, mau ada bom juga. Seperti di Irak berdagang, di Iran juga lebih banyak bom dari kita. Walaupun aman seaman-amannya, tapi dia tidak bisa untung, maka dia tidak akan datang. Orang dagang itu tergantung bisa untung atau tidak di negeri itu. Memang ada bom itu tidak nyaman," jelas Wakil Presiden Jusuf Kalla, dalam acara Bisnis Indonesia Award, di Hotel Mulia Senayan, Rabu (22/7/2009) malam.
Kendati demikian, selama Indonesia ekonominya masih berputar, penduduknya besar, gasnya masih ada, dan lain-lain, maka perekonomian pun akan jalan. "Jadi tidak perlu dikhawatirkan, karena kita punya kekuatan yang tidak dimiliki oleh orang lain," ucap JK.
Menurutnya, dengan terjadinya teror-teror selama ini lama-lama akan berkurang apabila perekonomian Indonesia baik. Walaupun tidak semua terkorelasi, antara kemakmuran dengan suatu negara yang aman kendati memang selalu ada.
"Kalau negara kita ini banyak kemiskinan, orang susah dapat kerja. Pasti lebih mudah orang merekrut sesuatu daripada yang tidak. Maka dari itu, ideologi kita harus diubah yakni dengan memperbaiki ekonomi, daripada ideologi bunuh diri dengan bom," tegasnya.
Dia pun mengimbau, apabila kita ingin orang lain merasa aman, maka dari kita dululah yang harus merasa lebih aman. "Jangan pula kita ketakutan dibanding orang lain. Kalau kita merasa ketakutan, ada apa-apa ke Singapura," pungkasnya. (Farid Rusdi/Trijaya/ade)