Group President & CE0 of Global Mediacom Hary Tanoesoedibjo. Foto: Heru Haryono/okezone.com
JAKARTA - Banyak persepsi bahwa perekonomian di Indonesia akan menurun pasca-insiden ledakan bom di dua hotel mewah pada pekan lalu di Jakarta. Pemilik modal asing pun dibuat merasa tidak nyaman untuk menanamkan investasinya di Jakarta dan hal ini memungkinkan perekonomian Asia jadi memburuk.
Namun, pandangan tersebut ditampik oleh pengusaha media PT Global Mediacom Tbk (BMTR) Hary Tanoesoedibjo, saat menyatakan pandangannya, dalam Dialog Kepemimpinan Asia (ALD) 2009, di Ballroom Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (29/7/2009).
"Tidak terlalu berpengaruh, sebetulnya itu bukan ideologi bangsa Indonesia tapi oknum. Jadi pengembangan investasi di Indonesia tidak berdampak (insiden ledakan)," kata Group President and CEO PT Global Mediacom Hary Tanoesoedibjo.
Mengenai target pertumbuhan ekonomi sebesar enam persen, Hary menyakini penuh bahwa Indonesia mampu mencapai pertumbuhan ekonomi lebih dari enam persen. "Harus bisa target enam persen," ujarnya.
Saat ditanyakan sang moderator Rosiana Silalahi di acara itu mengenai calon presiden nomor urut dua SBY-Boediono dalam memenuhi target perekonomian, Hary menilai pasangan ini akan menghasilkan orang dari kalangan profesional dibandingkan dari parpol. "Ini sudah masuk ranah politik," ujarnya disambut kelakar tawa hadirin.
Dia pun menyakini prospek pasar investasi di Indonesia masih dipegang oleh sektor ekonomi yang berkelanjutan dari sektor konsumer market. "Indonesia harus fokus pada sektor pasar dan saya yakin Indonesia cepat," pungkasnya. (ade)