Foto: Corbis
FRANKFURT - Keuntungan operator bursa saham Jerman, Deutsche Boerse AG, pada kuartal II-2009 turun 34 persen akibat anjloknya volume transaksi dan tingginya biaya operasional selama krisis keuangan global.
Keuntungan bersih Deutsche Boerse pada periode April-Juni lalu hanya 164,9 juta euro (USD237 juta) akibat pemangkasan beberapa unit bisnisnya. Hasil ini lebih rendah dibanding polling Dow Jones yang memperkirakan penurunan 27 persen. "Pasar finansial yang tengah berlangsung masih tidak pasti dan hasilnya menunjukkan keengganan pelaku pasar untuk berpartisipasi dan dampaknya negatif terhadap volume perdagangan," ungkap Deutsche Bourse,Selasa (4/8/2009).
Selama tiga bulan kedua tahun ini, penjualan di bursa terbesar di Eropa berdasarkan volume, turun 12 persen menjadi 515,6 juta euro,sedangkan total biaya operasional yang dikeluarkan mencapai 322,5 juta euro. Jumlah biaya operasional itu lebih tinggi dibanding periode yang sama 2008,sebesar 297 juta euro. Chief Executive Officer Deutsche Boerse Reto Francioni menyatakan bahwa kendati ada potensi berlanjutnya keengganan pasar terhadap partisipasi membelanjakan uang tunai maupun produk derivatif, dia yakin bisa mencapai hasil yang solid pada pertengahan tahun ini.
Namun, perusahaan itu tidak memberikan prediksi keuntungan hingga akhir tahun berjalan. Volume transaksi pada Deutsche Boerse's yang mengoperasikan bursa saham Xetra terkontraksi tujuh menjadi hanya 43,2 miliar euro, dan minus 14 persen pada pan- European Eurex atau hanya 709,5 juta euro. Menurut Deutsche Boerse, salah satu penyebab turunnya laba perusahaan adalah akibat penurunan bunga bank acuan bank sentral, sehingga menyebabkan tingkat bunga komersial kepada nasabah juga turun.
Alhasil, Boerse mencatatkan penurunan pendapatan pada kuartal II-2009 hingga 56 persen menjadi hanya 25,9 juta. "Rendahnya volume transaksi merupakan pembalasan pendapatan dan valuasi di masa lalu," kata Isabel Schauerte,analis pada Celent seperti dikutip Chicago Tribun (Yanto Kusdiantono/Koran SI/css)