JAKARTA - Dampak selisih di pasar keuangan domestik dinilai tidak terlalu signifikan menghantam perekonomian Indonesia. Adapun proses pemulihan di pasar keuangan dinyatakan relatif singkat.
Selain itu, modal asing kembali mengalir khsusunya ke Surat Utang Negara (SUN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan saham, yang secara year to date (YTD) mencapai USD4 miliar.
"Ini terutama didukung oleh sentimen positif terhadap kondisi fundamental perekonomian yang cukup baik. Misalnya terlihat dari kembali meningkatnya indeks harga saham gabungan (IHSG) dari level 1.111 pada Oktober 2008 ke level 2.360 per Kamis 6 Juli kemarin," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia Budi Mulya, saat Workshop Wartawan Ekonomi, Moneter, dan Perbankan, di Hotel Savoy Homan, Bandung, Jawa Barat, Jumat (7/8/2009).
Faktor tersebut menjadi salah satu kuatnya daya serap domestik dalam mendukung ekonomi Indonesia sebagai salah satu perekonomian yang kuat fundamentalnya, selain Singapura dan India. Di samping masih sanggup tumbuh positif di tengah kisaran krisis.
"Meskipun demikian, perlu kita sadari bersama bahwa risiko pelambatan ekonomi ke depan masih cukup besar," jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi di 2008 diperkirakan melambat dari 6,1 persen di 2008 ke kisaran 3-4 persen pada 2009. Indikatornya, seperti laju inflasi yang rendah sebesar 2,7 persen di Juli 2009 dan jumlah uang beredar (M1) yang hanya tumbuh 5,7 persen secara YoY per Juni 2009. Maka dari itu, dukungan stimulus fiskal dan moneter sejauh ini masih terkendala.
Di sisi lain, realisasi stimulus fiskal sampai Juni 2009, hanya lima persen dari total anggaran stimulus sebesar Rp73 triliun. "Kelonggaran moneter masih direspons secara terbatas oleh penurunan suku bunga kredit," ujarnya.
(Rani Hardjanti)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.