Darmin Nasution. Foto: Koran SI
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai target suku bunga SBI rata-rata tiga bulan sebesar 6,5 persen dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2010 sulit dicapai. Asumsi tersebut lebih rendah dari usulan BI sebesar 7-7,5 persen.
"Artinya untuk mencapai batas bawah pun kelihatannya perlu upaya khusus," ujar Deputi Gubernur Senior BI Darmin Nasution, saat rapat kerja dengan Panitia Anggaran (Panggar) DPR, di Gedung DPR, Kamis (21/8/2009) malam.
Darmin mengungkapkan, ada beberapa implikasi jika target SBI 6,5 persen versi pemerintah tidak tercapai. Salah satunya, peningkatan biaya untuk membayar bunga obligasi dalam APBN.
Proyeksi SBI versi bank sentral tersebut sejalan dengan usulan inflasi yang juga lebih tinggi, yakni 5-6 persen. Target inflasi pemerintah dalam nota keuangan ditetapkan lima persen yang berarti ada pada batas bawah usulan BI.
Darmin menduga, pemulihan ekonomi dunia pada tahun depan semakin kuat dan cenderung akan mendorong kenaikan harga. Meski demikian, dia melanjutkan, bank sentral tetap bertekad mendukung asumsi-asumsi makroekonomi terutama yang berkaitan dengan BI, bisa diwujudkan.
Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan, beberapa asumsi BI tidak cocok dengan keinginan pemerintah. BI, ujarnya, cenderung sebagai pasar bukan pengontrol pasar. "Seharusnya BI sebagai pengontrol. Saya kira target pemerintah lebih baik," ujar dia.
Terkait asumsi SBI, Harry menuturkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono optimistis target 6,5 persen bisa tercapai. Target tersebut akan berdampak pada stabilitas moneter jika dapat bertahan sampai akhir 2010.
Namun Harry khawatir jika realisasi inflasi 2010 di atas target lima persen karena target SBI berpotensi meleset. "Sebab oleh BI, SBI itu merupakan fungsi dari inflasi," katanya.
Dia berharap BI tetap bertahan mencapai target SBI 6,5 persen sesuai RAPBN 2010 meski inflasi melonjak di atas lima persen. Harry menjelaskan, SBI merupakan suku bunga referensi dan terkait dengan utang. Saat SBI naik, bunga Surat Utang Negara juga Surat Berharga Negara akan ikut naik. (Meutia Rahmi /Koran SI/ade)