Ancora Indonesia Akan Akuisisi Kuasa Pertambangan

Widi Agustian - Okezone
Jum'at, 11 September 2009 10:13 wib
Tambang Batu Bara. Foto: Corbis
Tambang Batu Bara. Foto: Corbis
JAKARTA - PT Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS) berencana mengakuisisi satu kuasa pertambangan (KP) yang berada di Kalimantan Timur. Due diligence yang dilakukan OKAS pun telah memasuki babak akhir.

"Due diligence sudah memasuki tahap akhir. Setelah cadangan keluar hasilnya, maka akuisisi tersebut bisa dilakukan," kata Vice President OKAS Teddy Soemantri, di sela buka puasa bersama di Pasific Place, SCBD, Jakarta, Kamis (10/9/2009) malam.

Dia menuturkan, akuisisi ini harus bisa berjalan dengan sukses pada tahun ini. Karena saat ini merupakan momen yang bagus untuk bisnis batu bara, di mana kebutuhan batu bara khususnya dalam negeri sedang banyak. "Target akuisisi tahun ini harus jalan. Kalau mundur kita akan ketinggalan momen dari luar," jelasnya.

Kendati telah sampai pada tahap akhir, tetapi OKAS masih perlu membuktikan apakah cadangan yang dikandung KP tersebut seperti yang diharapkan perseroan.

"Kita menginginkan skala produksi yang bisa menaikkan nilai perusahaan. Paling tidak produksinya 200 ribu ton per bulan, dengan demikian per tahun 2,4 juta ton. Selain itu, kita ingin KP itu untuk jangka panjang, 20 tahun," jelasnya.

Dengan demikian, hitung-hitungan di atas kertas, perseroan membutuhkan cadangan batu bara yang tersedia di KP tersebut paling tidak sebesar 40 juta ton. "Tapi minimum 30 juta ton juga tidak apa-apa. Itu cukup untuk bisa menaikan nilai perusahaan," ujarnya.

Setidaknya, perseroan membutuhkan waktu paling tidak tiga bulan untuk mengetahui cadangan yang ada. Selanjutnya, baru akan memberikan penawaran atas KP tersebut berdasar kepada besarnya cadangan batu bara.

Dengan asumsi nilai per satu ton cadangan batu bara di pasar internasional sebesar USD1. Maka, untuk cadangan sebesar 30 juta ton tersebut, paling tidak dibutuhkan dana sebesar USD30 juta.

Dilanjutkannya, KP di daerah Kalimantan Timur tersebut memiiki kualitas batu bara yang rendah, sekira 4.000-4.200 kcal, umumnya batu bara dengan kualitas ini disebut loreng.

"Batu bara di KP tersebut kalorinya rendah, tapi PLN banyak bangun PLTU dengan menggunakan kalori rendah. Selain itu untuk pasar ekspor sebenarnya ada juga, permintaan (batu bara loreng) umumnya datang dari India serta China," paparnya.

Sementara untuk dananya, sekira 20-30 persen akan berasal dari kas internal perseroan. Selanjutnya, sisanya kemungkinan akan didapatkan kemudian, entah itu dari perbankan, obligasi, maupun right issue. (ade)
TWITTER »
twit