Foto: Corbis
JAKARTA - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat pendapatan industri asuransi jiwa semester I-2009 melonjak 45 persen dari Rp26,5 triliun pada periode yang sama 2008 menjadi Rp38,4 triliun.
Ketua Umum AAJI Evelina F Pietruschka mengatakan, pertumbuhan pendapatan yang signifikan tersebut ditopang oleh kenaikan pendapatan nonpremi pada semester I-2009 sebesar Rp11,1 triliun. Adapun pendapatan premi produk baru (new business) tercatat menurun jadi Rp17,4 triliun jika dibandingkan periode yang sama tahun 2008,Rp18,7 triliun.
Kemudian pendapatan premi lanjutan (renewal) tumbuh 25,26 persen menjadi Rp9,64 triliun dibandingkan periode yang sama tahun 2008 sebesar Rp7,7 triliun. "Jadi pertumbuhan berkesinambungan industri asuransi jiwa lebih banyak ditopang kalau kita jual produk reguler. Itu bisa dilihat dari premi renewalyang cukup tumbuh signifikan.
Nah, kalau di new product terjadi penurunan, itu karena lebih banyak terkait investasi," ujarnya di Jakarta belum lama ini. Dia menegaskan, perkembangan positif pada angka pertumbuhan premi reguler (renewal premi) menunjukkan bahwa tren penyadaran pembelian asuransi jiwa mulai tumbuh.
"Kita harapkan untuk lebih tumbuh positif dari angka Rp400 hingga Rp700 miliar yang dapat kita monitor (per kuartal), "katanya. Executive Director AAJI Stephen Juwono menilai, jika mencermati pergerakan premi produksi baru per kuartal saat ini terjadi perbaikan.
"Namun jika dibanding kuartal II-2008, jelas ada penurunan karena saat itu belum terjadi krisis keuangan global.Tapi intinya di kuartal I-2009 mulai tumbuh dan di kuartal II-2009 lebih baik,"katanya. Terjadinya penurunan secara tahunan untuk premi produksi baru karena terjadinya penurunan pada single premium.
Adapun rincian perolehan single premium new business hingga kuartal II-2009 antara lain untuk premi individu menjadi Rp4,7 triliun dibanding Rp6,3 triliun di kuartal II-2008."Ini perlu dipahami karena krisis pasar modal," kata Stephen. Namun, untuk single premium dari kumpulan untuk new business tercatat naik, meski tipis, dari Rp1,8 triliun menjadi Rp1,9 triliun di semester I-2009.
Demikian juga untuk unit link yang tercatat naik menjadi Rp6,6 triliun dari sebelumnya sebesar Rp5,4 triliun."Pendapatan premi dari unit link mencapai 20,57 persen.Secara tahunan total pendapatan unit link naik dari Rp11 triliun menjadi Rp13,3 triliun. Jadi krisis tidak memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap unit link," kata Stephen.
Terkait investasi,Stephen menjelaskan bahwa nilai investasi industri asuransi jiwa anggota AAJI pada kuartal II/2009 (belum diaudit) mengalami peningkatan sebesar 18,13 persen atau mencapai Rp109,7 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp92,9 triliun.
Berikut ini adalah catatan instrumen investasi pada kuartal II/2009: Surat berharga Rp45,9 triliun (41,84 persen); reksa dana Rp33,6 triliun (30,63 persen); deposito Rp13,9 triliun (12,70 persen); penyertaan langsung Rp5,3 triliun (4,91 persen); surat pengakuan utang lebih dari satu tahun Rp3,7 triliun (3,40 persen); pinjaman polis Rp2,7 triliun (2,54 persen); bangunan tanah dan bangunan untuk investasi Rp2,0 triliun (1,90 persen); Sertifikat Bank Indonesia (SBI) Rp1,3 triliun (1,22 persen); SBPU Rp549,9 miliar (0,50 persen); lain-lain Rp246,8 miliar (0,22 persen) dan pinjaman hipotik Rp149,7 miliar (0,14 persen). (Rahmat Baihaqi/Koran SI/css)