Bank BRI. Foto: Sukirman/Koran SI
JAKARTA - Siapa yang kuat, dialah yang bertahan. Ungkapan tersebut pun bukanlah sekadar ucapan belaka. Seperti yang terlihat pada perusahaan-perusahaan publik di seluruh dunia yang jatuh bangun akibat krisis global.
Di antara perusahaan-perusahaan publik yang sudah dikelompokkan majalah Forbes Asia, mereka merupakan perusahaan yang mampu bertahan di tengah guncangan krisis. Bahkan, mereka bisa mempertahankan hingga menaikkan penjualan, sehingga bisa bersaing antar satu sama lain untuk merebut hati pasar.
Majalah Forbes Asia pun merangkumnya menjadi The Best Big Public Companies (Fab 50), seperti dikutip okezone, Kamis (1/10/2009), di mana perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di wilayah Asia dan Australia.
Adapun, perusahaan-perusahaan dari China dan India terlihat mendominasi dan tercatat sukses masuk dalam perusahaan publik yang mampu bertahan dalam menghadapi krisis. Beberapa di antaranya bahkan bisa menaikkan penjualan perusahaannya yang datang dari sektor teknologi, retail, telekomunikasi, hingga pertambangan.
Berikut, 10 perusahaan teratas dari 50 perusahaan yang masuk ke dalam perusahaan publik (Fab 50 versi Forbes Asia) yang dinilai bisa bertahan dan mempunyai kinerja perusahaan dalam beberapa tahun terakhir:
1. Acer (Taiwan), sektor teknologi dan computer hardware.
Nilai penjualan: USD16,6 miliar.
Kapitalisasi pasar USD6,6 miliar.
Acer menjadi perusahaan Taiwan yang mempunyai pendapatan terbesar kedua di negara ini untuk sektor tersebut.
2. Adani Enterprises (India), sektor perkebunan (produksi dan perdagangan).
Nilai penjualan: USD5,1 miliar.
Kapitalisasi pasar USD3,2 miliar.
Perusahaan penghasil gula dan komoditi lainnya ini 70 persen dimiliki oleh Adani Power dan menjadi yang terbesar di India karena bisa menghasilkan USD620 juta selama 18 bulan terakhir saat mereka menawarkan sahamnya ke publik.
3. Agile Property Holding (China), sektor real estate dan properti.
Nilai penjualan: USD1,4 miliar.
Kapitalisasi pasar USD4,7 miliar.
Gara-gara krisis, perusahaan properti dari China ini anjlok pendapatannya hingga 181 persen dalam setahun terakhir. Namun, para pengembang mengambil risiko dengan mempertaruhkan semuanya agar bisa menghidupi kembali kejayaannya. Terbukti, mereka masih bertahan hingga saat ini.
4. Bank Rakyat Indonesia (Indonesia), sektor perbankan.
Nilai penjualan: USD2,8 miliar.
Kapitalisasi pasar USD9,3 miliar.
BRI menjadi satu-satunya perusahaan Indonesia yang bersaing dengan perusahaan-perusahaan kelas dunia dari berbagai negara. Bank BUMN ini masuk ke dalam FAB 50 untuk kedua kalinya karena mempunyai rata-rata kenaikan keuntungan operasional sebesar 20 persen selama lima tahun terakhir.
5. BHP Billiton (Australia), sektor pertambangan (baja dan mineral).
Nilai penjualan: USD50,2 miliar.
Kapitalisasi pasar USD172,3 miliar.
Perusahaan pertambangan terbesar di dunia ini sempat tergerus pendapatannya dengan jatuhnya harga komoditi karena krisis ekonomi global. Kendati demikian, cash flow perusahaan yang kuat membuat BHP mampu bertahan hingga berencana untuk mengakuisisi Rio Tinto kendati gagal.
6. Komatsu (Jepang), sektor alat-alat berat.
Nilai penjualan: USD20,8 miliar.
Kapitalisasi pasar USD18,8 miliar.
Properti China yang sedang mem-booming saat ini, mau tak mau membuat permintaan akan alat berat menjadi tinggi, seperti kebutuhan akan excavation dan dump truck. China pun menggunakan jasa dari Komatsu, dan tak ayal, pendapatan Komatsu langsung melesat.
7. Samsung Heavy Industries (Korea Selatan), sektor alat berat pengapalan.
Nilai penjualan: USD8,6 miliar.
Kapitalisasi pasar USD5,1 miliar.
Jasa pengapalan terbesar kedua di dunia ini bergabung di Fab 50 untuk pertama kalinya. Perusahaan juga tercatat pernah menang tender sebesar USD5 miliar dari Royal Dutch Shell untuk membangun LNG offshore.
8. Tata Steel (India), sektor material atau baja.
Nilai penjualan: USD28,7 miliar.
Kapitalisasi pasar USD9 miliar.
Sudah ketiga kalinya perusahaan baja ini masuk dalam Fab 50 Forbes Asia. Pasar di India tetap menggeliat meskipun krisis melanda. Mereka pun sempat kena kejatuhan penjualan sebesar 11 persen dan laba bersih merugi hingga 68 persen.
9. ZTE (China), sektor teknologi dan telekomunikasi.
Nilai penjualan: USD6,5 miliar.
Kapitalisasi pasar USD10,2 miliar.
Mereka juga mengalami imbas akibat krisis, mulai dari laba bersih yang jatuh hingga 42 persen dan pendapatannya anjlok. Namun, kendati pasar di China yang terus menggeliat membuat harga saham mereka melonjak hingga delapan persen.
10. Noble Group (Hong Kong), sektor perkebunan dan industri.
Nilai penjualan: USD36,2 miliar.
Kapitalisasi pasar USD5,5 miliar.
Pada 2008, pendapatan perusahaan tertekan hingga 54 persen dan laba bersih juga anjlok hingga 124 persen. Hal ini membuat perusahaan masuk dalam daftar yang bertahan dalam menghadapi krisis.
(ade)