Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Proyek pembangunan pembangkit listrik hydro 1.000 MW di Cisokan I, Bogor menarik minat beberapa perusahaan asing untuk berinvestasi di sana. Adapun dana investasi untuk pembangunan tersebut diperkirakan USD2 juta per 1 MW.
"Investasinya besar sekali. Sudah banyak yang daftar dari negara-negara maju seperti China, Jepang, dan Jerman," ujar Vice Chairman Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Djoko Winarno, seusai Konferensi Pers the Energy and Mining Indonesia Series of Trade Exhibitions 2009, di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (6/10/2009).
Dikatakannya, Indonesia memiliki potensi pembangkit listrik Hydro yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, yang paling potensial untuk dibangun adalah di daerah Sumatra dan Jawa.
Mengenai harga jual listrik tenaga hydro ini, diperkirakan akan lebih murah daripada harga jual listrik dengan bahan-bakar lain, yaitu hanya sekira 4 sen dolar Amerika. "Yang mahal alat beratnya, harga jual listriknya murah. Kan airnya enggak beli," tambahnya.
Selain itu, pascapengesahan UU Ketenagalistrikan bulan lalu oleh DPR juga membuat sejumlah perusahaan dalam negeri untuk melakukan pembangunan pembangkit listrik di sejumlah daerah dengan tenaga yang lebih kecil. "Sejak UU disahkan, sudah ada 75 kontrak baru pembangunan mini hydro di seluruh Indonesia," ungkapnya.
Pembangkit listrik mini hydro ini hanya sekira kurang dari 10 MW dengan investasi hanya USD 1.500 per MW. "Besarnya investasi tergantung dari lokasi, kira-kira USD1.500 per MW," tukasnya.
UU Ketenagalistrikan sendiri sudah ditandatangani oleh Presiden SBY dengan Nomor 30/2009. (ade)