Getting time...

Kadin Usul 3 Sektor Prioritas

Rabu, 7 Oktober 2009 07:04 wib
Foto: Koran SI
Foto: Koran SI
JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mengusulkan agar kabinet yang baru mampu memberikan prioritas pengembangan tiga sektor industri dalam lima tahun ke depan.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Rachmat Gobel mengatakan, ketiga sektor industri tersebut adalah industri alat telekomunikasi dan informatika, industri logam dasar dan mesin, dan industri petrokimia. "Langkah ini sangat penting untuk meningkatkan daya saing dan ketahanan perekonomian nasional dalam menghadapi era persaingan bebas ke depan," kata dia di Jakarta kemarin Menurutnya, seiring dengan perkembangan ke depan, daya saing suatu negara akan sangat ditentukan oleh penguasaan terhadap teknologi informasi dan teknologi industri.

Dengan demikian, Indonesia perlu memperkuat diri di sektor tersebut. "Mulai dari industri perangkat keras yang berhubungan dengan peralatan pengolah data seperti komputer,monitor, peripheral,dan industri perangkat lunak yang berkaitan dengan pengolahan ide, hingga konsep, dan pembuatan program,"kata dia.

Rachmat mengatakan, salah satu penyebab lemahnya efisiensi industri nasional saat ini adalah karena ketertinggalan Indonesia dalam mengembangkan industri permesinan dan barang modal. "Bisa dilihat dari mesin dan barang modal impor yang terus membengkak dalam beberapa tahun terakhir ini,"kata dia.

Menurutnya, industri petrokimia merupakan industri yang sangat strategis, karena menunjang berbagai sektor industri lainnya. Selama ini, Indonesia masih belum berhasil memanfaatkan sumber daya minyak dan gas (migas) yang dipunyai sebagai modal dasar pengembangan industri kimia.

"Produk migas masih diekspor dalam bentuk komoditas primer,"ujarnya. Dia mengatakan, di sektor industri secara umum masalah yang utama adalah soal energi, UU Ketenagakerjaan, dan pendanaan. Selain itu, infrastruktur, di samping masalah listrik dan jalan,juga menjadi penghambat. "Serta hal lain adalah administrasi. Saya pikir, di mana satu masalah legal aspek tidak terfokuskan selama ini.

Ketidakpastian seperti itu membuat industri sangat tidak nyaman. Selama ini memang ada perbaikan tapi ketinggalan dibanding negara tetangga,"tambahnya. Sementara itu, Ketua Komite Industri Logam Mesin Elektronik dan Alat Angkut Kadin Indonesia Gunadi Sindhuwinata mengatakan, apabila ingin industri di Indonesia berkembang,maka dibutuhkan dukungan yang besar dengan adanya teknologi.

"Kita tidak mungkin maju tanpa pengetahuan tentang teknologi. Kita memberi teknologi, menerima, terjadi transfer aplikasi karena dibuat satu wadah untuk melakukan realisasi dari penerapan teknologi, berarti ada di industrinya bisa mengembangkan karena kebijakan mendukung,"pungkasnya.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Djimanto mengatakan, industri hilir juga harus dimasukkan dalam daftar sektor usaha yang diprioritaskan untuk dikembangkan lebih intensif. Dia menuturkan,ketiga sektor usaha yang diprioritaskan oleh Kadin, yakni telekomunikasi dan informatika, logam dasar dan mesin, serta petrokimia tergolong industri hulu.

"Lalu setelah dikembangkan nanti apa mau diekspor? Kurang bagus juga kalau yang diekspor masih bahan mentah," paparnya ketika dihubungi kemarin. Jika begitu, dia melanjutkan, nilai tambah produk tersebut tidak akan berada di Indonesia lantaran diolah oleh negara lain.Terkait hal ini,Apindo melihat industri manufaktur atau pengolahan juga perlu didaftarkan sebagai sektor prioritas.

Djimanto lebih lanjut mengatakan, fasilitas untuk industri prioritas nantinya tidak musti berbentuk insentif perpajakan.Menurut dia,lebih penting jika pemerintah melakukan reformasi birokrasi dan memperbaiki infrastruktur.

"Reformasi birokrasi amat penting karena dia menjadi pangkal pemangkasan ekonomi biaya tinggi," katanya. Adapun infrastruktur yang perlu diperbaiki dalam rangka menghilangkan ekonomi biaya tinggi, terutama menyangkut listrik, air,juga pelabuhan.
(Meutia Rahmi /Koran SI/css)
TWITTER »
twit