Logo IMF. Dok IMF
ISTANBUL - Dana Moneter Internasional (IMF) bersama dengan Bank Dunia mengklaim sebagai pemberi pinjaman global pada pertemuan tahunan di Istanbul. Kendati demikian, IMF masih terbilang kaku dalam menghadapi tantangan dari pemulihan ekonomi yang rapuh dari anggotanya.
Kepala keuangan dari 186 negara anggota dari lembaga tersebut sepakat setelah selama dua hari berbicara tentang mandat yang luas untuk membangun pemulihan yang langgeng dari krisis terburuk sejak Great Depression.
Ekonomi global yang rebound yang dipimpin oleh China dan negara-negara berkembang lainnya, masih terbilang lemah dan dapat melonjakan angka pengangguran yang berdampak ke sistem keuangan.
Kedua lembaga yang berbasis di Washington ini pun berjanji untuk melakukan reformasi menyeluruh dalam meningkatkan transparansi dan pemerintahan, serta mendengar hak suara dari negara-negara yang kurang terwakili.
"Jika negara-negara berkembang merupakan bagian dari solusi, mereka juga harus menjadi bagian dari percakapan," tukas Presiden Bank Dunia Robert Zoellick, seperti dikutip dari AFP, Kamis (8/10/2009).
Hal ini terlihat jelas bahwa IMF sedang berambisi untuk menjadi "IMF yang baru" dengan menjadi institusi yang memberikan pinjaman secara global dan menjadi pengawas dari G20 yang mempunyai rencana ekonomi terbesar untuk membangun pertumbuhan berkelanjutan.
"Pertemuan tahunan ini dapat menjadi titik awal IMF yang baru, dan mungkin Anda akan mengatakannya ketika Anda akan berbicara dengan cucu-cucu Anda bahwa Anda berada di Istanbul pada saat ini," kata Managing Director IMF Dominique Strauss-Kahn.
Kebijakan IMF dalam forum tersebut akan mengatasi empat bidang reformasi utama yakni peranan pembiayaan IMF, pengawasan multilateral, dan pemerintahan. Ini termasuk pergeseran pemilihan kekuasaan sebesar lima persen untuk negara yang kurang terwakili seperti yang direkomendasikan oleh G20.
Strauss-Kahn mengatakan "Keputusan Istanbul" ini akan menjadi fokus utama di tahun yang akan datang. "Kami datang dari jauh, namun perjalanan belum berakhir," katanya kepada delegasi.
Bank Dunia pun meminta dana lebih karena melihat catatan pinjaman untuk negara berkembang dan negara-negara miskin selama dua tahun berturut-turut.
"Ketika kita mulai untuk mendapatkan ke arah pertengahan tahun depan, kita akan mulai menghadapi beberapa kendala serius, dan kita harus fokuskan pinjaman pada negara-negara berpenghasilan terendah," ujar Zoellick.
Adapun pembuat kebijakan umum pertama menyetujui penambahan modal untuk Bank Dunia dalam 20 tahun untuk menangkal krisis dan memaksa 90 juta lebih orang ke dalam kemiskinan pada 2010.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pun menyerukan adanya mata uang cadangan global baru untuk mengakhiri supremasi dolar, yang katanya telah memberikan kontribusi terhadap ketidakseimbangan global.
Strauss-Kahn mengatakan, dana bisa membutuhkan lebih dari satu triliun dolar dalam pembiayaan dari anggotanya berfungsi sebagai bank terakhir yang akan mengurangi kebutuhan bagi negara-negara untuk membangun cadangan besar sebagai bantal terhadap guncangan. (ade) (rhs)