(Foto: Koran SI)
JAKARTA - Fenomena masuknya aliran dana asing jangka pendek yang bersifat sementara (hot money) bisa menjadi pedang bermata dua, yaitu peluang sekaligus ancaman yang membahayakan.
Peluang karena mampu mengangkat nilai tukar rupiah hingga ke level Rp9.300-an per dolar, mengangkat indeks menembus level 2.500-an (naik sekitar 80%), serta memperkuat cadangan devisa yang kini sudah mencapai USD62,287 miliar.
"Dalam konteks tersebut, dibutuhkan strategi dan kebijakan, baik yang bersifat jangka panjang maupun pendek oleh Pemerintah Indonesia khususnya Bank Indonesia," papar lembaga kajian Strategic Indonesia dalam keterangannya tertulisnya yang dikirim kepada okezone, Senin (12/10/2009).
Aliran hot money di Indonesia didorong oleh beberapa faktor, yaitu perekonomian global yang ditandai masih suramnya pemuilhan ekonomi di negara maju. Selain itu investor global mengalihkan investasinya ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Faktor domestik Indonesia yang dinilai sangat potensial, terutama karena bursa ditopang oleh kinerja perusahaan berbasis komoditas primer seperti batu bara dan minyak sawit mentah yang harganya melambung di pasar internasional juga menjadi salah satu faktor penentu.
"Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang masuk dalam G20. Indonesia juga menjadi negara terbesar demokratis ketiga setelah India dan Amerika Serikat, yang tentunya memiliki implikasi yang besar terhadap aktivitas ekonomi," urainya.
Fakta ini lebih diperkuat dengan stabilitas politik Indonesia yang termasuk kategori paling stabil di Asia. Ini masih diperkuat dengan fakta lain bahwa di tengah krisis global, Indonesia masih mengalami angka pertumbuhan ekonomi positif sebesar 4,2% dan hanya kalah dari China dan India di Asia.
"Secara umum dapat dikatakan perekonomian Indonesia memiliki potensi sangat besar," imbuhnya.
Tidak mengherankan jika kemudian Lembaga Rating Moody's Investor meningkatkan rating obligasi Pemerintah Indonesia dari level Ba3 menjadi Ba2. Morgan Stanley dalam rilis Juli 2009 mengatakan Indonesia layak masuk dalam klub BRIC. CLSA juga mengatakan Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi kawasan bersama China dan India (Chindonesia). Standard Chartered Bank menyebut "Indonesia is a Power House in Asia". Media terkemuka The Economist (edisi September 2009) juga menulis laporan khusus dengan judul "Indonesia: A Golden Chance".
Penilain positif dari banyak lembaga internasional ini sangat mempengaruhi "psikologi" investor, ditandai dengan meningkatnya hot money. Berkaitan dengan hal tersebut menurut Dr A Prasetyantoko, ekonom independen yang juga dosen Unika Atma Jaya, Pemerintah Indonesia harus menjaga semaksimal mungkin agar aliran jangka pendek tidak cepat keluar agar tidak menimbulkan gonjang-ganjing (volatilitas). Selain itu juga membuat sedemikian rupa sehingga modal asing jangka pendek tersebut menjadi awal dari investasi yang sifatnya jangka panjang (foreign direct investment).
Ujian pertama adalah pengumuman susunan kabinet pada 21 Oktober 2009 mendatang. Jika ternyata susunan kabinet terlalu akomodatif, bisa jadi justru memudarkan optimisme pasar. Bisa diprediksi hot money akan keluar.
Kedua, kalaupun kabinet menyakinkan pasar, pertanyaannya apakah mereka mampu mengembangkan program-program yang berorientasi pada peningkatan daya saing perekonomian. Proyek infrastruktur, energi, dan isu desentralisasi, akan menjadi tiga hal pokok yang selalu dicermati oleh investor, khususnya asing. (jri)