JAKARTA - Tekanan bertubi tubi sentimen negatif bursa global terhadap indeks harga saham gabungan (IHSG) bulan lalu turut melemahkan kinerja reksa dana, terutama reksa dana saham.
Selama 30 hari terakhir atau sepanjang Oktober 2009, return atau hasil investasi reksa dana saham secara rata-rata turun 4,89 persen. Penurunan ini lebih besar dibandingkan kinerja IHSG yang sepanjang bulan lalu hanya tergerus 4,04 persen ke level 2.367,7. Analis lembaga riset Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai wajar kinerja reksa dana saham yang lebih rendah di saat bursa saham turun. "Reksa dana saham memang lebih agresif dibandingkan IHSG," katanya di Jakarta kemarin.
Wawan menjelaskan, Manajer Investasi (MI) selalu berupaya memberikan kinerja yang memuaskan untuk investornya. Alhasil, selalu diupayakan transaksi, sehingga berpotensi merugi ketika bursa saham jatuh. Selain itu,kinerja yang lebih rendah disebabkan adanya biaya pengelolaan yang membuat hasil investasi di reksa dana saham lebih kecil. Semua reksa dana saham,yang mencapai 71 produk, tercatat tergerus kinerja bursa saham.
Lima produk yang paling parah terkena imbas, Jakarta Blue Chip yang diterbitkan PT Jakarta Investment yang turun 10,12 persen, BNI Dana Berkembang yang dikeluarkan PT BNI Securities (-10,4 persen), Batasa Equity Syariah yang diterbitkan PT Batasa Capital (-11,14 persen), Makinta Mantap milik PT Makinta Securities sebesar 14,66% dan terparah Paramitra Premium yang diterbitkan PT Paramitra Alfa Sekuritas, berkurang 17,58 persen. Senada dengan Wawan, Presiden Direktur Fortis Investment Eko B Pratomo mengatakan, koreksi yang terjadi pada saham dan selanjutnya berimbas kepada reksa dana saham cukup wajar.
Penurunan kali ini justru memberikan kesempatan kedua bagi investor yang tidak sempat membeli pasar reksa dana saat bursa global jatuh tahun lalu. "Banyak orang yang ketinggalan dan akhirnya menunggu.Ini adalah saat yang baik, meskipun fluktuasi ini memang membuat investor ragu kapan waktu yang tepat,"tuturnya. Dia memaparkan,dalam jangka panjang, pasar akan naik bila melihat prospek dan fundamental perekonomian Indonesia yang baik.
Alhasil, investor yang masih ragu disarankan untuk disiplin menentukan pada level rendah manakah IHSG yang tercipta sebelum memutuskan membeli reksa dana saham. Dalam situasi seperti ini, reksa dana saham direkomendasikan untuk investasi jangka panjang. Sementara itu, untuk pemain reksa dana dalam jangka pendek riset Infovesta merekomendasikan investor untuk mengoleksi reksa dana saham pada awal bulan ini.
Data historis10 tahun terakhir menunjukkan, investor yang membeli reksa dana saham pada November dan menjualnya akhir tahun selalu untung."Tetapi reksa dana saham memang tidak bisa jangka pendek. Harus panjang, setidaknya tiga tahun, baru kemudian bisa mengalahkan kinerja IHSG," kata Wawan.
(Candra Setya Santoso)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.