Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Industri Manufaktur Digenjot

Meutia Rahmi , Jurnalis-Senin, 09 November 2009 |07:14 WIB
Industri Manufaktur Digenjot
Foto: Koran SI
A
A
A

JAKARTA - Pemerintah bertekad menggandakan pertumbuhan industri manufaktur melalui upaya revitalisasi untuk mendorong kinerja ekspor pada tahun depan.

Menurut Menko Perekonomian Hatta Rajasa,pertumbuhan industri manufaktur sekitar 2,67 persen pada kuartal III-2009 masih terlalu rendah. "Sekarang harus cepat didouble- kan," paparnya di Jakarta baru-baru ini. Pertumbuhan industri manufaktur yang cepat diperlukan untuk merespons kenaikan permintaan impor negara-negara maju pada tahun depan seiring pemulihan ekonomi global.

Industri manufaktur pada kuartal III-2009 hanya tumbuh 0,02 persen jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini, terutama tampak pada industri manufaktur berbasis ekspor. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melihat fenomena ini wajar lantaran permintaan impor dari negaranegara maju anjlok sejak terkena krisis keuangan global.

Hatta berharap pertumbuhan industri manufaktur akan membaik pada kuartal IV-2009. Hatta memperkirakan pertumbuhan ekonomi juga akan mencapai puncaknya pada kuartal IV-2009 dan secara keseluruhan diprediksi mencapai 4,3 persen. Hatta optimistis target pertumbuhan ekonomi 4,3 persen dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2009 bisa tercapai mengingat konsumsi rumah tangga masih mampu tumbuh di atas lima persen.

Belanja pemerintah juga akan terus naik pada kuartal akhir, termasuk stimulus fiskal. Terkait stimulus, Hatta sudah meminta seluruh kementerian/lembaga penerima stimulus untuk menggenjot penyerapannya. "Syukur-syukur di atas 95 persen realisasinya, "paparnya. Sementara itu,Kepala ekonom Danareksa Research Institute Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, ada peningkatan kepercayaan konsumen selama Oktober lalu terhadap kemampuan pemerintah melaksanakan tugas-tugasnya.

Setelah menurun pada survei sebelumnya, Indeks Kepercayaan Konsumen terhadap Pemerintah (IKKP) naik 0,67% menjadi 114,2 pada Oktober. Sedikitnya ada tiga komponen pembentuk IKKP yang tercatat meningkat, yakni indeks yang mengukur kemampuan pemerintah menjaga stabilitas harga, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menjaga keamanan.

Namun, dua komponen lainnya, yakni indeks yang mengukur kemampuan pemerintah untuk menegakkan hukum dan menyediakan sarana umum menurun. Selain itu, dalam risetnya,Danareksa Research Institute menyebutkan, optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian nasional selama Oktober kemarin mengalami penurunan. Disebutkan, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) pada Oktober turun 0,1% dari bulan sebelumnya.

Menurut Purbaya, penurunan tipis tersebut menunjukkan sedikit kekhawatiran konsumen terhadap kondisi perekonomian saat ini."Kekhawatiran ini terutama terhadap tingginya harga bahan makanan pokok dan makanan jadi,"ujarnya dalam keterangan tertulis kemarin. Kendati begitu, dia melanjutkan, jumlah konsumen yang mengkhawatirkan tingginya harga bahan makanan semakin berkurang,yakni dari 62,9 persen pada September menjadi 54,2 persen pada Oktober lalu.

Tetapi, Purbaya mengingatkan,hal ini tetap menjadi faktor penting yang memengaruhi keadaan ekonomi lokal konsumen dalam tiga bulan terakhir. Dana reksa juga mencatat ada penurunan minat beli konsumen terhadap barang tahan lama dalam enam bulan mendatang.

Hal ini sejalan dengan turunnya ekspektasi ketersediaan lapangan kerja di masa mendatang.Menurut survei, konsumen yang berencana membeli barang-barang tahan lama dalam enam bulan mendatang turun dari 24,8% pada September menjadi 22,7 persen Oktober lalu. 

(Candra Setya Santoso)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement