Foto: Corbis.com
JAKARTA - Porsi penggunaan bahan bakar geothermal (panas bumi) dalam proyek percepatan 10 ribu megawatt (MW) tahap II lebih mendominasi ketimbang penggunaan batu bara. Anggaran penggunaan sudah dimasukkan dalam anggaran pendapatan belanja (APBN) 2010.
"Komposisi panas bumi akan lebih dimaksimalkan. Sejumlah pembangkit berbahan bakar batu bara akan diubah menjadi pembangkit berenergi panas bumi," ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu, saat ditemui wartawan, seusai Acara Indonesia-Australia Bilateral, di Gedung Djuanda 1, Departemen Keuangan, Jakarta, Selasa (10/11/2009).
Saat ini pembahasan tersebut sudah selesai dibahas Departemen ESDM dan tinggal disinkronisasikan dengan departemen lain. "Draftnya sudah kita sampaikan ke Menko Perekonomian dan harapannya segera dibahas finalisasi keppres tersebut," tambahnya.
Dalam proyek 10 ribu MW tahap kedua tersebut rencananya porsi panas bumi akan mencapai 48 persen (4.733 MW), sementara lainnya yaitu tenaga air sebesar 12 persen (1.174 MW), batu bara 26 persen (2.616 MW), dan gas 14 persen (1.140 MW). (rhs)