Getting time...

2010, Industri Asuransi Bakal Menciut

Kamis, 12 November 2009 19:37 wib
(Corbis)
(Corbis)
JAKARTA - Pada tahun depan industri asuransi diperkirakan bakal menciut. Hal tersebut disebabkan karena banyak perusahaan yang melakukan akuisisi dan menggabungkan usaha (merger).

"Tahun depan kompetisi perusahaan asuransi makin sengit. Pasar akan didominasi oleh pemain-pemain besar dengan fokus pada kelas bisnis tertentu. Sementara segmen ritel diperebutkan oleh pemain kecil. Sehingga tidal ada kata lain kecuali akuisisi atau merger agar bisa untung," tegas Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Eko Budiwiyono selepas acara Indonesia Insurance Outlook 2010 di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (12/11/2009).

Berdasarkan data dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), jumlah asuransi kian menurun. Hingga semester I/2009, jumlah asuransi jiwa sekitar 46 perusahaan. Padahal pada tahun 2005 masih sekitar 51 perusahaan.

Namun khusus untuk asuransi umum, jumlahnya hanya naik tipis dari 88 perusahaan di tahun 2007 menjadi 89 perusahaan di tahun 2008. Perusahaan asuransi ini banyak yang melakukan akuisisi, merger, ataupun hanya berganti nama (baik diakuisisi atau tidak).

Padahal menilik dari kinerja keuangan perusahaan asuransi di Indonesia, tren pertumbuhan premi bruto selalu naik tiap tahun. Catatan terakhir, premi bruto hingga akhir 2008 naik 13,25 persen menjadi Rp71,5 triliun dari Rp63,2 triliun pada tahun sebelumnya.

"Tapi kinerja keuangan yang membaik itu bukan ditopang dari hasil investasi, melainkan dari hasil underwriting," tambahnya.

Kecenderungan perubahan pola meraup laba, kata Eko, disebabkan karena perusahaan asuransi semakin terbatas dalam meraih peluang mencari margin yang tinggi dari instrumen investasi. Sehingga perusahaan asuransi mengalihkan penghasilannya dari hasil underwriting.

Dari data Biro Perasuransian Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), pendapatan asuransi dari hasil underwriting naik 40,98 persen di tahun 2008 sebesar Rp4,2 triliun dari tahun lalu sebesar Rp2,9 triliun. Namun pendapatan hasil investasi merosot 23,85 persen menjadi Rp1,4 triliun dari Rp1,87 truliun pada tahun sebelumnya.

"Namun pendapatan hasil underwriting di tahun 2007 justru anjlok 6,23 persen dari tahun sebelumnya sebesar Rp3,1 triliun. Maklum pada tahun tersebut ada bencana besar yang menyebabkan klaim juga besar," katanya.

CEO Allianz Life Indonesia Jens Reisch menjelaskan penetrasi perusahaan asuransi di Indonesia akan besar. Namun pemainnya justru didominasi oleh perusahaan asuransi besar.

"Kami memprediksi di tahun depan perusahaan asuransi terutama asuransi jiwa akan menciut menjadi 40 perusahaan saja. Padahal tahun ini masih ada 46 perusahaan asuransi jiwa. Hal itu disebabkan perusahaan asuransi jiwa banyak yang diakuisisi dan merger," ungkap Jens.

Baru-baru ini, PT Asuransi Andika Raharja Putera sudah merger dengan PT Asuransi Tugu Kresna Pratama pada 13 Oktober lalu. Lanjut Jens, kemungkinan tahun depan bakal ada proses akuisisi ataupun merger lagi.

Dari data AAJI, penetrasi pasar asuransi di Indonesia di tahun 2010 diperkirakan sekitar 3,96 persen. Angka tersebut hanya naik tipis dari prediksi penetrasi hingga akhir tahun 2009 sebesar 3,61 persen.

Meski penetrasi naik, kecenderungan pemain besar mendominasi pasar juga naik. Namun dari 10 besar pemain asuransi di Indonesia, total pendapatan (GWP) hanya naik 4 persen pada tahun 2008 menjadi Rp46,1 triliun.

"Pertumbuhan GWP rata-rata dari 10 perusahaan asuransi besar di Indonesia hanya sekitar 6-28 persen. Jika perusahaan asuransi ini tidak mampu bertahan, otomatis yang dilakukan adalah akusisi atau merger," tambah Jens.

Sebelumnya, Kepala Bapepam-LK Fuad Rahmany mengungkapkan regulator pasar modal tidak akan menutup sebuah perusahaan asuransi. Namun yang dimungkinkan adalah akuisisi atau merger.

"Belum pernah dalam sejarah perasuransian di Indonesia yang perusahaannya ditutup. Namun yang mungkin adalah akusisi atau merger dengan perusahaan asuransi lain," tegas Fuad.

Kasus ini mencuat setelah ada masalah pada perusahaan asuransi PT Asuransi Jiwa Bakrie (BakrieLife) yang terkena gagal bayar atas dana nasabahnya sekitar Rp360 miliar. Hingga saat ini kasus ini masih belum selesai. Bahkan nasabah BakrieLife akan membawa ke jalur hukum jika manajemen BakrieLife gagal membayar klaim nasabah hingga akhir tahun 2009. (Didik Purwanto/Koran SI/jri)
TWITTER »
twit