Getting time...

2010, BI Prediksi Dana SBI Rp300 Triliun

Rabu, 18 November 2009 20:13 wib
Foto: Heru Haryono/Okezone.com
Foto: Heru Haryono/Okezone.com
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa dana yang masuk ke instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) di tahun depan bakal melonjak hingga Rp300 triliun. Dana tersebut naik 11,1 persen dari posisi saat ini sebesar Rp270 triliun.

"Kami memprediksi dana yang ditaruh investor di SBI bakal melonjak tahun depan, yaitu di kisaran Rp300 triliun. Kenaikan tersebut terjadi karena kelebihan likuiditas sebagai dampak dari kebijakan moneter yang dilakukan oleh BI," ungkap Deputi Gubernur BI Hartadi A Sarwono di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (18/11/2009).

Kenaikan itu, lanjut Hartadi, juga ditopang oleh asumsi pertumbuhan ekonomi di tahun depan yaitu tumbuh sekira 5-5,5 persen. Serta laju tingkat inflasi sebesar lima persen plus minus satu persen dengan suku bunga acuan BI (BI rate) tetap dipertahankan di kisaran 6,5 persen.

Dengan asumsi pertumbuhan makro tersebut, BI menilai akan ada pertumbuhan likuiditas yang harus juga diserap. Salah satunya muncul dari biaya operasional moneter.

"Biaya operasi moneter hanya dari SBI saja sudah sekira 20-21 persen. Itu pun bunga SBI sudah kita tekan menjadi 6,5 persen," tambahnya.

Selain itu, kelebihan likuiditas lainnya juga disebabkan dari pembiayaan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Terutama yang berasal dari luar negeri. Bagaimanapun, dana asing tersebut akan menambah uang segar di domestik dan berdampak pula terhadap uang yang beredar di pasar.

Nantinya, BI akan menghitung penambahan uang yang beredar di masyarakat tadi dan disesuaikan dengan kondisi makro domestik. Selisih antara kedua faktor tersebutlah yang nantinya akan diserap.

Hingga saat ini, Hartadi mengaku kebijakan yang diambil oleh BI masih memadai. Namun yang paling penting adalah kebijakan yang dilakukan BI harus mampu meminimalisasi dampak hot money.

Caranya adalah saat ada devisa masuk dari investor asing ke perbankan dan membuat pasar kelebihan likuiditas, BI akan melakukan intervensi dengan membeli dollar AS. Sebaliknya, BI akan menjual USD jika pasokan USD di pasar berkurang.

"Hingga akhir tahun, aliran dana asing masih terus banyak. Hal tersebut seiring dengan tren pelemahan dolar dan penyelesaian perekonomian AS belum pulih," tegasnya. (Didik Purwanto/Koran SI/ade)
TWITTER »
twit