JAKARTA - Akibat pernyataan dari Plt Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution bahwa inflasi November 2009 ini merupakan inflasi terendah di tahun ini, nilai tukar rupiah kembali bertenaga dan kembali menguat pada perdagangan hari ini. Padahal, pasar finansial tengah lesu.
Rupiah pada perdagangan Rabu (25/11/2009) ditutup menguat di level Rp9.447-Rp9.417 per USD, yakni menguat dibandingkan dengan pada perdagangan kemarin, Selasa 24 November kemarin di Rp9.496-Rp9.466 per USD.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) menduga terjadi deflasi pada bulan ini, akan tetapi BI tetap meyakini adanya inflasi meski rendah. Potensi inflasi ini berasal dari belanja stimulus fiskal yang akan digenjot habis-habisan agar terserap optimal sampai akhir tahun.
Namun, inflasi November tetap akan rendah walaupun ada faktor stimulus tersebut.Sampai akhir tahun, Darmin menuturkan, inflasi diduga masih tetap rendah kendati ada potensi lonjakan harga-harga barang menjelang perayaan Natal, Desember.
Laju inflasi selama Oktober tercatat 0,19 persen, sedangkan secara tahun kalender (Januari-Oktober) sebesar 2,48 persen. Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu (tahunan) mencapai 2,57 persen.
Walau demikian, ternyata penguatan rupiah berbanding terbalik dengan yang terjadi di indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup melemah 10,35 poin atau 0,42 persen ke posisi 2.461,53.
Sentimen negatif yang muncul pada perdagangan hari ini adalah sepinya sentimen positif. Selain itu, pelaku pasar masih menunggu kepastian kasus Bank Century, sebagai refleksi kepastian hukum di mata investor.
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.