Foto: Corbis
SINGAPURA - Bank Dunia mengkhawatirkan kenaikan tingkat suku bunga yang cepat bisa memicu tingginya inflasi dan memperlambat pemulihan ekonomi terutama di Eropa dan Amerika Serikat (AS).
"Itu sama dengan menunggu gelembung meledak dan kemudian membersihkannya dan setelah itu akan menjadi pelajaran baru yang tidak diharapkan," kata Presiden Bank Dunia Robert Zoellick dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Financial Times hari di Singapura kemarin. Dia menambahkan, pengetatan suku bunga yang terlalu cepat terutama di negara yang proses pemulihannya seperti di AS dan Eropa dapat memicu adanya penurunan di sektor lain.
Zoellick juga memberikan catatan terhadap Bank Sentral Australia (RBA) yang telah menaikkan suku bunganya meski pemulihan baru saja dimulai. Menurut dia, kebijakan tersebut memungkinkan negara-negara Asia yang mengadakan hubungan ekonomi dengan Australia akan berada di bawah tekanan dan mengikutinya.
RBA mengumumkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,5 persen pada awal bulan ini dengan alasan negara tersebut sudah keluar dari krisis global. "Kebijakan suku bunga rendah telah usai," kata Gubernur RBA Glenn Stevens saat itu. Kebijakan tersebut merupakan yang kedua kalinya pascakrisis setelah pada Oktober lalu suku bunga Australia dikerek dari tiga persen menjadi 3,25 persen. Sebelumnya,RBA memangkas suku bunga acuan dari 7,25 persen pada September 2008 menjadi tiga persen pada April 2009.
Suku bunga acuan di bulan April merupakan terendah sejak 1960. Pemerintah Australia juga mengucurkan stimulus 70 miliar dolar Australia (USD61,4 miliar) untuk menjaga aktivitas perekonomian. "Menaikkan suku bunga saat The Fed (Bank Sentrak AS) mempertahankan level mendekati nol akan menyebabkan apresiasi terhadap mata uang Asia.
Ini akan membuat ekspor mereka lebih mahal dan penurunan penjualan di luar negeri sehingga pemulihan menggangu nilai ekspor," kata Zoellick. Dia menambahkan bahwa ada peluang kompetisi dari mata uang China terkait dengan penurunan dolar AS yang membuat barangbarang Negeri Panda itu lebih murah dari pada rivalnya di Asia. Sementara itu,pejabat The Fed meyakini pemulihan ekonomi di AS akan bersifat tahan lama meski tidak melihat adanya peningkatan pengangguran dan inflasi dalam waktu dekat.
Menurut pejabat tersebut, pada pertemuan awal bulan ini, The Fed pernah mengungkapkan keprihatinan terkait rencana mempertahankan tingkat suku bunga rendah dalam waktu lama. Pasalnya, kebijakan itu diperkirakan berdampak negatif dan memungkinkan adanya kegiatan spekulatif di pasar keuangan.
Diketahui, The Fed memotong suku bunga hingga mendekati 0 persen pada Desember tahun lalu akibat krisis keuangan global.The Fed juga telah menyuntikkan lebih dari USD1 triliun ke dalam perekonomian untuk memerangi resesi terparah sejak tahun 1930-an.
(Yanto Kusdiantono/Koran SI/css)