Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Utang Gunawan Dianjaya Turun Jadi USD27 Juta

Widi Agustian , Jurnalis-Kamis, 26 November 2009 |13:27 WIB
Utang Gunawan Dianjaya Turun Jadi USD27 Juta
Ilustrasi. Foto: Corbis
A
A
A

JAKARTA - Utang dagang PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk mengalami penurunan menjadi sekira USD27 juta. Padahal per 30 Juni 2009, utang dagang perseroan masih sebesar USD56 juta.

"Per 30 Juni 2009 utang kita USD56 juta, tapi karena bergulirnya waktu dan kemampuan perusahaan dalam 3-4 bulan ini, sedikit demi sedikit mulai berkurang, sekarang kurang lebih sisa USD27 juta," kata Direktur dan Corporate Secretary Hadi Sutjipto saat konferensi pers di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (26/11/2009).

Dia menjelaskan, utang yang dimilikinya tersebut merupakan utang dagang. Sehingga, tidak memiliki jatuh tempo kapan batas waktu pembayarannya. "Jika ada uang, maka akan kita bayarkan," ucapnya.

Untuk itu, sebanyak 70 persen dana dari IPO perseroan digunakan untuk membayar utang tersebut yang merupakan pembelian bahan baku berupa slab baja melalui fasilitas kredit dari Stemcor Pte Ltd, Singapura.

Selain itu, dia menjelaskan jika perusahannya juga terafiliasi dengan PT Jaya Pari Steel Tbk (JPRS), karena JPRS memiliki kepemilikan saham walau hanya sebesar 0,4 persen. Di samping itu, perseroan juga terafiliasi dengan PT Beton Jaya Manunggal Tbk, karena adanya manajemen yang sama.

Di sisi lain, pihaknya diprediksi akan mencatat rugi bersih sebesar Rp136,8 miliar pada akhir 2009. Sementara penjualannya dipatok sebesar Rp1,67 triliun. "Perseroan diperkirakan menderita kerugian Rp136,8 miliar tahun ini dibandingkan laba bersih senilai Rp83,1 miliar pada 2008," katanya.

Sementara itu, untuk 2010 perseroan mematok akan mendapatkan laba bersih sebesar Rp1,3 triliun, dengan angka penjualan minimal Rp100 miliar. Untuk itu, pihaknya akan membagikan dividen pada 2010 mendatang.

"Perseroan akan membagikan dividen sebesar 30 persen dari laba bersih, bila laba bersih perseroan mencapai di atas Rp100 miliar," ucapnya.

Salah satu strategi yang perseroan gunakan untuk meningkatkan penjualannya adalah dengan memfokuskan ke ekspor. Jika saat ini komposisi penjualan produknya adalah 44 persen untuk domestik dan 56 persen untuk ekspor.

Pada tahun depan, penjualan ekspor ditargetkan menjadi 70 persen dan domestik hanya 30 persen. "Ada risiko valas dari pembelian bahan baku, itu kita kover dengan penjualan valas. Negara baru yang menjadi tujuannya adalah Asia Tenggara, Australia, dan Timur Tengah," ucapnya.

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement