Foto: Corbis
LA PAZ - Perusahaan minyak asal Spanyol, Repsol YPF, akan menginvestasikan USD1,5 juta selama lima tahun ke depan untuk meningkatkan produksi gas alam di Bolivia.
Seperti dilansir dari AFP, Jumat (27/11/2009), Presiden Repsol Antonio Brufau mengatakan bahwa produksi tersebut nantinya akan diambil dari ladang di bagian selatan Bolivia bernama Huacaya dan Margarita.
Adapun produksi gas alam itu sebesar dua juta meter kubik gas per hari untuk delapan juta meter kubik setiap hari pada 2012 dan 14 juta meter kubik per hari pada 2013.
Peningkatan produksi di kedua ladang gas alam tersebut akan digunakan untuk meningkatkan ekspor ke Argentina dan Bolivia, serta memasok ke pasar domestik.
"Investasi ini akan memberikan Bolivia tambahan volume gas yang akan memungkinkan negara ini memenuhi komitmen untuk pasar internal dan ekspor, terutama untuk pasar Argentina," kata Kepala Negara Bolivia yang menjalankan perusahaan minyak Yacimientos Petroliferos Fiscales Bolivianos (YPFB), Carlos Villegas.
Beberapa bulan setelah Presiden Bolivia Evo Morales menasionalisasi industri gas di 2006, La Paz menandatangani kesepakatan dengan Buenos Aires yang bertujuan untuk menghasilkan sedikitnya USD17 miliar dolar untuk ekspor gas Bolivia selama lebih dari satu dekade.
Di sisi lain, di bawah kesepakatan, perusahaan energi milik Argentina, ENARSA, akan mengeksplorasi dan mengeksploitasi gas, minyak, dan hidrokarbon di Bolivia, yang merupakan negara dengan cadangan gas terbesar kedua di Amerika Selatan setelah Venezuela.
Kedua negara juga sepakat bahwa ada kesepakatan untuk membangun saluran pipa untuk membawa gas dari Bolivia ke timur laut Argentina.
Seperti diketahui, Bolivia telah meningkatkan ekspor gas ke Argentina sebesar tujuh juta meter kubik setiap harinya pada 2008. Angka ini meningkat hingga 14 juta kubik meter ketika pipa datang onstream pada 2011. Namun demikian, proyek tersebut tertunda dan mengalami kemunduran. Bolivia pun saat ini memompa antara dua dan lima juta meter kubik setiap hari ke Argentina. (ade)