Getting time...

Kredit Bermasalah BNI Naik

Senin, 30 November 2009 14:05 wib
Gatot M Suwondo (Foto: Koran SI)
Gatot M Suwondo (Foto: Koran SI)
JAKARTA - Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) secara net PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) mengalami peningkatan dari September 2008 sebesar 1,1 persen menjadi 1,9 persen di September 2009.

"Posisi kenaikan NPL net ini disebabkan pemisahan (spin off) Unit Usaha Syariah BNI yang sesuai Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) 5 Oktober lalu," ungkap Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo selepas Analyst Meeting dan Press Conference di BNI Tower, Jakarta, Senin (30/11/2009).

Lanjut Gatot, untuk mempersiapkan unit usaha syariah menjadi perusahaan yang memiliki kualitas aset yang baik, BNI perlu melakukan asset cleansing yang berdampak juga pada provisi BNI.

Untuk menggelar spin off tersebut, BNI telah menggelontorkan Rp311 miliar kepada unit usaha syariahnya.

"Kami juga menginginkan NPL bisa turun hingga 6 persen pada akhir tahun 2009. Maklum NPL per September 2009 masih di posisi 6,4 persen, lebih kecil dari posisi per September 2008 sebesar 6,5 persen," tambahnya.

Sementara untuk ekspansi usaha syariah di Dubai, Uni Emirates Arab, BNI juga telah menyuntikkan investasi sebesar Rp1 triliun. Meskipun di Dubai sedang mengalami krisis keuangan Dubai World, BNI tetap akan menjalankan usahanya tanpa takut terpengaruh dampak krisis Dubai World.

"Kami akan tetap menjalankan usaha syariah di sana. Kami sudah komitmen dengan Islamic Corporation Development Bank (ICDB), anak perusahaan Islamic Development Bank (IDB) di Jeddah," pungkasnya.

Optimisme tersebut didasarkan karena dengan modal Rp300 miliar, BNI telah meraup pendapatan Rp1,4 triliun di kuartal III/2006. Sementara total aset pada periode yang sama sebesar Rp4,3 triliun.

Dengan total aset tersebut, BNI mengklaim bahwa BNI Syariah masih merupakan bank syariah dengan aset terbesar di Indonesia. (Didik Purwanto/Koran SI/jri)
TWITTER »
twit