Foto: Corbis
JEPANG - Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) Masaaki Shirikawa dan Perdana Menteri Yukio Hatoyama kemarin menggelar pertemuan untuk membahas krisis ekonomi Jepang.
Shirikawa menyatakan, PM Yukio Hatoyama tidak memintanya untuk mengambil langkahlangkah mengurangi tambahan kebijakan moneter longgar. "Kita berbagi pandangan yang sama pada deflasi," kata Shirikawa seusai pertemuan kemarin. Hatoyama saat memberikan keterangan kepada wartawan menyatakan dirinya menjauhi kritik BoJ seraya menyebutkan bahwa pemerintah dan bank sentral akan bekerja sama untuk mengakhiri deflasi.Sebelumnya dalam website Nikkei Hatoyama menyatakan bahwa penguatan yen terhadap dolar tidak bisa dibiarkan begitu saja.
Kepala Sekretaris Kabinet Hirofumi Hirano menyatakan, pembicaraan tersebut terkait menguatnya nilai tukar yen. Meski demikian, dalam pertemuan itu Hatoyama tidak membahas tindakan intervensi terhadap nilai tukar yen. "Sangat penting bagi pemerintah dan bank sentral untuk menyamakan pandangan mengenai situasi ekonomi, nilai tukar, dan pasar saham," kata Hirano. Salah seorang pejabat BoJ lainnya menyatakan, dalam pertemuan kemarin bank sentral mengisyaratkan lebih terbuka dalam mengadopsi langkah-langkah mendukung perekonomian, termasuk menawarkan tambahan pendanaan jangka pendek.
Hal senada juga disampaikan anggota Dewan Direksi BoJ Miyako Suda yang menyebutkan bahwa bank sentral tidak akan mengesampingkan opsi-opsi kebijakan apa pun untuk mengambil kebijakan moneter yang efektif. Pernyataan tersebut selang sehari setelah BoJ mengumumkan akan menyuntikkan dana senilai 10 triliun yen (USD114 miliar) ke pasar keuangan. "Biaya dan manfaat dapat berubah bergantung pada situasi di pasar keuangan,"katanya saat berbicara di depan para pemimpin bisnis di Tokyo kemarin. Guna memuluskan langkah pemulihan dari krisis,Pemerintah Jepang juga telah mengumumkan ada tambahan stimulus senilai USD31 miliar.
Strategi ini diambil untuk membantu mengatasi penguatan yen dan melemahnya harga saham. Yen kemarin diperdagangkan pada level 87,30 per dolar AS,naik 0,7 persen, sementara terhadap euro juga menguat 0,1 persen menjadi 131,90. Penguatan yen dalam beberapa pekan terakhir memicu kekhawatiran dari para pelaku ekonomi dan pejabat negara karena kondisi tersebut bisa menyebabkan ekspor utama Jepang yakni produk automotif dan elektronik terganggu. Sementara itu, para Menteri Keuangan di zona Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF) sepakat bahwa nilai tukar euro saat ini masih terlalu tinggi.
Menurut Pimpinan Menteri Keuangan Eropa Jean-Claude Juncker, jika euro terlalu kuat, kawasan tersebut akan sulit bersaing dengan China yang menggunakan yuan.Hal ini karena produk dari 16 pengguna mata uang euro akan menjadi lebih mahal. "Kami sepakat dengan para menteri lainnya bahwa euro terlalu tinggi sehingga dibutuhkan ada penyesuaian,"katanya. Pada Selasa lalu,euro bergerak lebih tinggi terhadap dolar dipicu aksi investor setelah data positif dari industri manufaktur China, AS,dan Eropa.Euro kemarin diperdagangkan pada level 1,5094 per dolar, naik dari sehari sebelumnya 1,5005 per dolar. Penguatan nilai tukar euro terhadap dolar juga memicu komentar dari Perdana Menteri Prancis Nicolas Sarkozy.
Menurut dia, jika euro terus menguat, pihaknya tidak bisa menjual produk Eropa ke AS. "Bagaimana Anda mengharapkan kita menjual pesawat ke AS?" kata dia.Dia juga menegaskan bahwa kondisi bisa mendorong agar dunia memiliki "sistem moneter multipolar. (Yanto Kusdiantono/Koran SI/css)