Getting time...

Bailout AS Dipangkas USD200 M

Selasa, 8 Desember 2009 07:11 wib
Foto: Corbis
Foto: Corbis
WASHINGTON - Proyeksi biaya jangka panjang dana talangan (bailout) pemerintah untuk perbankan nasional di Amerika Serikat (AS) diperkirakan berkurang setidaknya USD200 miliar dibanding anggaran yang ditetapkan sebelumnya.

Pejabat Departemen Keuangan AS menyatakan, pemerintahan Presiden Barak Obama telah memperkirakan biaya pembayar pajak dari USD700 miliar dalam skema Troubled Asset Relief Program (TARP) akan menjadi sekitar USD341 miliar. "Peningkatan ini didorong oleh fakta bahwa investasi Departemen Keuangan untuk menstabilkan sistem keuangan telah memberikan keuntungan yang lebih tinggi daripada yang diantisipasi," kata pejabat Departemen Keuangan, Minggu (6/12/2009) lalu. Seiring dengan membaiknya pasar keuangan, saat ini sejumlah perbankan antre mendaftarkan diri untuk mengembalikan dana TARP.

Kondisi tersebut mendorong Departemen Keuangan memiliki ruang untuk mempertimbangkan penggunaan lain seperti penciptaan lapangan kerja di samping membantu sektor perbankan. "Wajib pajak akan membayar kurang dari perkiraan sebelumnya. Defisit dan utang akan lebih rendah," kata Departemen Keuangan. Diketahui, defisit anggaran AS mencapai rekor tertinggi USD1,4 triliun pada tahun fiskal 2009 dan diperkirakan tetap stabil pada tahun fiskal 2010 karena masih besarnya kebutuhan pinjaman pendanaan.

Perbankan AS telah berupaya mengembalikan dana talangan untuk membebaskan diri dari kekangan pemerintah yang menetapkan sejumlah syarat saat menerima bantuan dari para pembayar pajak.Perbankan menganggap digunakannya dana talangan Pemerintah AS akan membuat bank kurang kompetitif di banding bankbank tidak menggunakan program TARP. Bank of America (BoA) menyatakan maksudnya untuk membayar kembali dana talangan senilai USD45 miliar dari total dana TARP yang akan dilunasi sebesar USD116 miliar. Pejabat Departemen Keuangan menyatakan, hingga akhir tahun 2010, BoA diperkirkan akan bisa melunasi bailoutsebesar USD175 miliar.

"Kami menghormati bantuan Pemerintah AS musim gugur tahun lalu dalam program Stabilisasi Pasar Keuangan.Dan kami merasa bahagia karena bisa membayar secara penuh ditambah bunga,"kata Chief Executive Officer (CEO) BoA Kenneth Lewis pekan lalu. Demikian juga dengan raksasa perbankan lainnya seperti Citigroup. Bank ini kini sedang mencoba membujuk Pemerintah AS untuk mengizinkannya untuk membayar USD20 miliar. "Dalam wajib pajak itu rencananya akan dibayarkan secara efektif sebelum penutupan penjualan saham pada pertengahan minggu depan," tulis Financial Times edisi Minggu lalu.

Sementara Obama dijadwalkan menyampaikan pidato kenegaraan dalam program penciptaan lapangan kerja hari ini waktu setempat. Dia diperkirakan akan mengalihkan dana TARP untuk sektor tenaga kerja. Namun, kubu Partai Republik keberatan dengan rencana tersebut dan menginginkan agar dana pengembalian TARP digunakan untuk pengurangan defisit, bukan untuk yang lain.

Sebelumnya Ketua Federal Deposit Insurance Corp (FDIC) Sheila Bair menyatakan, pemerintah diimbau untuk berhati-hati terkait rencana perbankan yang akan mengembalikan dana bailout-nya.Hal ini karena perbankan yang bersangkutan dipastikan tidak akan mendapatkan bantuan serupa di masa datang. (Yanto Kusdiantono/Koran SI/css)
TWITTER »
twit