PM Jepang Yukio Hatoyama. (Foto: AP).
TOKYO - Pemerintah Jepang menggulirkan paket stimulus fiskal senilai total USD81 miliar atau setara dengan nilai Rp764,84 triliun.
Perdana Menteri dan Kabinet Yukio Hatoyama baru saja menyetujui dana stimulus fiskal sebesar 7,2 triliun yen atau setara dengan USD80,6 miliar. Dana sebesar itu akan digulirkan setelah adanya negosiasi dengan mitra koalisi. Dengan adanya mega stimulus itu, maka akan menimbulkan risiko penyusutan penerimaan pajak.
Seperti dikutip dari Associated Press, Selasa (8/12/2009), Dengan adanya kebijakan moneter ini mengimplikasikan, bahwa ekonomi domestik negara Jepang yang notabenenya adalah negara dengan ekonomi terkuat di dunia pun masih sangat rapuh, jika tidak didukung oleh pemerintah.
Seperti diketahui, ekonomi Asia termasuk Jepang, bergantung pada ekspor dari Eropa dan Amerika Serikat. Dengan porak-porandanya ekonomi kedua negara tersebut, Jepang berupaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap perdagangan dengan meningkatkan belanja konsumen. Langkah konservatif ini dipercaya akan memakan waktu beberapa tahun untuk bisa sepenuhnya kembali pulih.
Sementara itu, di Amerika, Presiden Barack Obama menggunakan sisa uang dari dana talangan perbankan USD200 miliar, untuk membiayai skema penciptaan lapangan kerja.
Sebagai perbandingan Pemerintah Inggris telah mengeluarkan dana bailout penyelamatan sistem perbankan sebesar 850 miliar pound (933 miliar euro/USD1,4 triliun). Ini adalah jumlah penyelamatan terbesar yang pernah dikeluarkan Inggris. (rhs)