Getting time...

Kasus Century Berdampak Buruk ke Investasi RI

Andina Meryani - Okezone
Rabu, 9 Desember 2009 17:44 wib
Wakil Ketua Umum Kadin bidang UMKM Sandiaga Uno. Foto: Andina Meryani/okezone.com
Wakil Ketua Umum Kadin bidang UMKM Sandiaga Uno. Foto: Andina Meryani/okezone.com
JAKARTA - Belum tuntasnya penyelesaian kasus Bank Century, bisa berdampak buruk pada iklim investasi di Indonesia. Hal itu terlihat dari peringkat yang diberikan lembaga penelitian internasional Moody's yang menempatkan investment grade Indonesia di ranking Ba2, yang artinya Indonesia termasuk non-investment grade.

"Peringkat itu tergolong buruk. Masak kita disamakan dengan Nepal, Pakistan yang jelas-jelas tidak seaman Indonesia. Padahal semua negara G20, termasuk Malaysia dan Singapura, masuk investment grade," ujar Wakil Ketua Umum Kadin bidang UMKM Sandiaga Uno dalam acara Forum Dialog Bersama Otoritas dan Pelaku Ekonomi Meneropong Ekonomi Indonesia ke Depan: Peluang dan Tantangan, di Menara Sjafruddin Prawiranegara BI, Jakarta, Rabu (9/12/2009).

Dalam kesempatan yang sama Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Agus Martowardojo menyatakan ada potensi perekonomian Indonesia bisa jatuh terpuruk akibat kasus Bank Century. Hal itu terkait banyaknya kalangan berpendapat kasus Century dapat membuat Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani akan digulingkan dari posisinya saat ini.

"Awalnya para investor asing tidak terlalu melihat kasus Century ini, tetapi jika kasus Century bisa membuat Menteri Keuangan dan Wakil Presiden dijatuhkan maka hancur kita," ungkap Agus.

Menurutnya, Sri Mulyani dan Boediono di mata investor memiliki kinerja yang sangat baik dalam menjaga fiskal. Apabila kedua orang tersebut dijatuhkan, maka kepercayaan para investor akan hilang.

Namun, sebenarnya perhatian utama para investor dalam melakukan komitmen investasi di Indonesia bukanlah sekadar perkara soal Century. Meskipun demikian persoalan Century harus segera dituntaskan tanpa harus menjatuhkan kedua pejabat tinggi negara tersebut karena bisa berakibat fatal bagi dunia investasi.

"Sebenarnya mereka (investor) itu  cenderung melihat banyak faktor seperti privatisasi, lalu kinerja BUMN publik, RUPS-RUPS, succession planning, kemudian bagaimana kebijakan dividen BUMN-BUMN dan pengelolaan manajemen," pungkasnya.  (ade)
TWITTER »
twit