o1 o2

Economy - Strategi Pemasaran


Menuju Perusahaan Kelas Dunia

Kamis, 10 Desember 2009 - 10:52 wib
text TEXT SIZE :  
Foto: Corbis.com

PADA era globalisasi dewasa ini, keinginan untuk menjadi perusahaan kelas dunia kian tak terbendung.Beberapa perusahaan berikut tengah menapaki langkah demi menjadi perusahaan kelas dunia. Seperti apa?

Perusahaan minyak dan gas (migas) Exxon Mobil Corporation dan Royal Dutch Shell merupakan dua perusahaan supermajor yang kini sedang berada di puncak kejayaan. Wajar saja,karena dua perusahaan besar ini sudah memulai bisnisnya puluhan tahun silam. Exxon misalnya, berawal dari Standard Oil yang berdiri pada 1870,sedangkan Sheel adalah sebuah perusahaan patungan Belanda dan Inggris yang berdiri pada 1900-an. Selain itu, ada pula The British Petroleum Company yang beroperasi pada 1954, dan Chevron Corporation yang dibangun pada 1879.

Lantas,bagaimana dengan perusahaan migas nasional? Kendati usia PT Pertamina masih jauh dari beberapa perusahaan tersebut, perusahaan ini mematok menjadi pemain kelas dunia dengan waktu singkat,yakni 15 tahun. Menurut juru bicara PT Pertamina Basuki Trikora Putra, Pertamina sedang menapaki langkah menuju perusahaan kelas dunia, dengan menyusun target yang harus dicapai. Hal ini dibuktikan dengan roadmap yang dibangun perusahaan tersebut yang meliputi tiga tahapan.

Untuk periode pertama (2008 - 2013) perusahaan ini membangun landasan yang kukuh di Tanah Air. Caranya yakni dengan menargetkan menjadi perusahaan terkemuka di Indonesia dan menjadi yang terbaik dalam kegiatan operasi, sekaligus menjadi role modeluntuk keberhasilan transformasi. Pada lima tahun kedua (2013 - 2018), perusahaan migas ini menargetkan menjadi perusahaan minyak terkemuka di kawasan Asia Tenggara. Barulah pada tahun-tahun berikutnya (2018 - 2023), Pertamina menjadi perusahaan minyak nasional kelas dunia. "Posisi Pertamina pada periode ini setingkat dalam kapabilitas dengan perusahaan minyak internasional terkemuka," ujar Basuki, yang akrab disapa Tiko ini.

Diakui Tiko, untuk mewujudkan visi dan misi perusahaan ini tidaklah mudah.Pihaknya pun telah melakukan pembenahan di beberapa aspek untuk itu. "Terutama adalah peningkatan kualitas SDM (sumber daya manusia) yang dimiliki perusahaan," katanya ketika dihubungi Seputar Indonesia. Terkait dengan hal ini, Pertamina pun giat melakukan kaderisasi SDM untuk peningkatan kinerja, yakni dengan mengadakan berbagai pelatihan pendidikan bagi para karyawannya. Namun, bukan hanya bidang keahlian yang dididik, mereka pun juga diberikan materi pengambangan profesional sehingga menjadi kader siap pakai.

Kerja sama yang dilakukan dengan perusahaan asing, juga membawa dampak positif bagi para karyawannya, yakni transfer knowledge. Pembenahan yang dilakukan untuk bidang SDM ini, sejalan dengan faktor lain yang juga turut mendukung terwujudnya cita-cita perusahaan tersebut, di antaranya peningkatan teknologi, fasilitas, dan layanan kepada konsumen. Tiko mengaku langkah-langkah yang dilakukan perusahaan tersebut, kini telah menghasilkan dampak yang signifikan. Produkproduk Pertamina telah diekspor ke beberapa negara, dan tentunya standar yang diterapkan pun sudah merupakan standar internasional.

Mesin kegiatan yang sudah berjalan di beberapa negara, di antaranya di Vietnam, Malaysia, Libya,Sudan,dan Qatar."Jadi,kita bukan cuma jago kandang saja," kata Tiko.Kendati demikian tidak dapat dimungkiri, karena sebagai perusahaan milik negara, Pertamina belum menjadi sebuah entitas bisnis murni yang dapat berdiri sendiri. Meski begitu,Tiko mengatakan ini bukanlah hambatan untuk mencapai perusahaan kelas dunia. Perusahaan lain yang juga tengah menjadi perusahaan kelas dunia adalah PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF). Survei yang dilakukan Wall Street Journal 2009 berhasil mengukuhkan INDF sebagai perusahaan terbuka terbaik di Indonesia pada posisi ketiga.

Keberadaan INDF sebagai sebuah perusahaan makanan olahan, dirintis pada 1982 melalui pendirian PT Sarimi Asli Jaya,yang memproduksi mi instan merek Sarimi. Selama perjalanannya,INDF melakukan berbagai langkah untuk memantapkan posisinya di Indonesia. Langkah besar INDF untuk memperkuat diri sebagai a giant integrated food company baru dilakukan lagi pada 2005, yaitu melalui usaha patungan dengan Nestle yang membentuk PT Nestle Indofood Citarasa Company. Kemudian pada 2007,INDF kian memperkuat unit agrobisnisnya dengan mengakuisisi Rascal Holdings Limited dan perusahaan perkebunan yang sudah lebih dari seabad usianya, yaitu PP London Sumatera Plantation Tbk (LSIP).

Di pihak lain, dengan memiliki berbagai merek kuat di berbagai bidang bisnis, INDF terdorong untuk membentuk Central Marketing Unit untuk membantu seluruh unit usaha mengembangkan arahan pemasaran strategis yang komprehensif untuk menciptakan sinergi dalam media,riset,dan pemasaran. Hal ini dibenarkan General Manager Marketing Noodles Division Head Office INDF Evelyn Listya Atmaja. Sebagai seseorang yang bertanggung jawab di divisi noodles Evelyn bersama timnya gencar mencari cara agar permintaan masyarakat akan produk-produk mi tetap terjaga di pasaran. Dia mengaku paling anti dengan kalimat daya beli masyarakat turun.

"Sebab logikanya, meski kondisi perekonomian sedang krisis, yang namanya kegiatan konsumsi tentu tidak akan pernah berhenti," katanya. Namun, tukas Evelyn, segala kendala yang menghampiri merupakan sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Evelyn pun percaya suatu saat nanti INDF akan menjadi perusahaan kelas dunia. (sri noviarni)(Koran SI/Koran SI/rhs)

 Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?
Share
Bagi Anda pengguna ponsel, nikmati berita terikini di http://m.okezone.com
o1 o2
o1 o2

0 komentar

[+lihat komentar]


o1 o2
o1 o2

Berita Lainnya

o3 o4