Ilustrasi
JAKARTA - Industri komponen (sparepart) automotif merasa was-was seiring dengan makin dekatnya implementasi perjanjian China-ASEAN free trade agreement (CAFTA).
Mereka khawatir begitu pintu perdagangan terbuka lebar tanpa hambatan, keberadaan industri komponen mobil dan motor dalam negeri akan dilibas oleh produk asal China.
Ketua Umum Gabungan Industri Alat-Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Hadi Surjadipradja mengatakan, industri komponen nasional saat ini kalah dari segi harga apabila dibandingkan dengan produk impor asal China. "Harga sparepart kita 12 persen hingga 18 persen lebih mahal," tuturnya di Jakarta belum lama ini.
Hadi mengungkapkan, lebih mahalnya harga produk industri komponen dalam negeri sulit di atasi mengingat masih tingginya penggunaan sejumlah bahan baku impor, karena belum bisa diproduksi sendiri. Selain itu, dia menjelaskan dari sisi volume pun industri komponen lokal masih relatif sedikit. Hadi membandingkan industri komponen dalam negeri dengan industri di serupa di Thailand yang berkembang jauh lebih pesat karena didukung penuh pemerintahnya.
"Di Thailand, investasi di sektor komponen diberi tax holiday selama delapan tahun, bea masuk (BM) bahan baku diizinkan 0 persen selama lima tahun, dan didukung dengan infrastruktur yang bagus," paparnya.
Tak hanya Thailand, kata Hadi, Vietnam pun berhasil melakukan halyangsama. "Pemerintah Vietnam mendukung penuh investasi baru di sektor automotif. Setelah FTA ASEAN-China ini, buat apa orang investasi di Indonesia," kata Hadi. (wdi)
(Koran SI/Koran SI/rhs)