Foto: Koran SI
JAKARTA - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berencana mengakuisisi perusahaan pengolahan kelapa sawit dan karet. Tak tangggung-tanggung, salah satu emiten grup Bakrie bidang perkebunan ini, akan memperluas area lahan kebunnya menjadi 150 ribu hektare (Ha) pada 2012.
"Kami akan memperkuat bisnis utama perseroan di bidang pengelolaan kelapa sawit dan karet sekaligus upaya mewujudkan rencana strategis perusahaan untuk memperluas area menjadi 150 ribu ha pada 2012," ungkap manajemen perseroan, dalam materi public expose perseroan, kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Rabu (16/12/2009).
Menurutnya, untuk mewujudkan rencana strategis perusahaan untuk menjadi sebuah perusahaan agrobisnis yang holistik dengan mendiversifikasi bisnis ke industri hilir, yaitu oleochemical. Adapun target-target perusahaan ke depan, yakni target akuisisi merupakan fasilitas pengelolahan oleochemical terbesar di Indonesia yang berada dalam satu area, memiliki standar kualitas tinggi karena menggunakan teknologi hilir.
Kedua, diharapkan mampu menghasilkan sinergi dari integrasi vertikal dengan industri hulu yang saat ini telah dimiliki dan dikelola oleh perusahaan. Ketiga, grup yang memiliki bisnis hulu dan hilir yang terintegrasi memiliki profil pendapatan yang lebih stabil.
Perseroan pun mencatat penurunan yield TBS Plasma disebabkan oleh efek siklus biologis setelah pada periode tahun-tahun sebelumnya mencatatkan produktivitas yang cukup tinggi. Volume produksi CPO dan PK pun menurun disebabkan perusahaan mengurangi pembelian TBS pihak ketiga sebesar 55 k ton sedangkan peningkatan produksi kebun inti dan plasma sebesar 17k ton.
Sebelumnya, perseroan berencana pengembangan kelapa sawit dan karet yang mencapai 100 ribu ha, dia mengakui ada niat untuk mengembangkan kelapa sawit di Liberia Afrika Selatan. "Kami sedang menjajaki untuk memperoleh posesi lahan seluas 200 ribu ha," ujar Direktur Utama UNSP Ambono Januarianto, usai RUPST di Hotel Nikko, 10 Juni 2009.
Menurutnya, yang membuat perseroan tertarik berinvestasi di Afrika adalah intensif konsesi penguatan lahan bisa mencapai 100 tahun.
Dijelaskannya, untuk mewujudkan proyek internasional itu, perseroan akan mempertimbangkan laporan keuangan yang telah disetujui dalam RUPS hari ini. Diperkirakan total yang dikeluarkan untuk proyek itu mencapai, Rp4,1 miliar untuk perkebunan karet sebesar 4.000 ha. (css)