Foto: Koran SI.
JAKARTA - Pembangunan jalan tol di Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara-negara tertangga, baik di kawasan regional maupun international.
Setidaknya, hampir seluruh ruas tol atau berjumlah 20 ruas dari 22 ruas atau 90,9 persen tanah jalan tol belum bebas dan biaya pengadaan tanah merupakan bagian dari komponen investasi yang menjadi tanggung jawab investor.
"Kita jauh tertinggal dibandingkan dengan negara lain. Dalam kurun waktu 31 tahun belakangan ini, kita hanya mampu membuat jalan tol sepanjang 690 km atau bila diambil rata-ratanya jalan tol dibuat hanya 25 km pertahunnya," ujar Kepala Badan Pengaturan Jalan Tol (BPJT) Nurdin Manurung yang berbicara sebagai salah satu narasumber acara PT Jasa Marga Tbk (JSMR) dengan tema Konsep Tol Sebagai Alternatif Pendanaan untuk Mewujudkan Pembangunan Infrastruktur Jalan, di Lounge Bimasena The Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Rabu (16/12/2009).
Dirinya membandingkan pula dengan negara tetangga seperti Malaysia yang berhasil membangun jalan tol lebih kurang 1.200 kilometer (KM), sedangkan Jepang mampu membuat 11.220 KM dan yang cukup membanggakan, panjang jalan tol yang dibangun China telah mencapai 100 ribu KM lebih.
"Kita masih bertahan dan yang paling menyedihkan, setelah UU Nomor 38 tahun 2004 keluar, dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini, kita hanya membuat cuma 127 km. Prestasinya masih jauh dibandingkan dengan yang lain," tegasnya.
Sebanyak 22 ruas tol yang dimaksud, yaitu dua ruas tol sepanjang 44,85 km dengan biaya investasi Rp3,722 triliun, tanah yang telah bebas 100 persen dan dalam penyelesaian konstruksi. "Direncanakan operasi pada Januari 2010 besok," katanya.
Kemudian, tiga ruas tol sepanjang 152,47 km dengan biaya investasi Rp11,299 triliun dalam proses pengadaan tanah dan pelaksanaan konstruksi. Lalu, delapan jalan ruas tol sepanjang 324,71 km dengan biaya investasi Rp19,913 triliun, dan sembilan ruas jalan tol sepanjang 259,44 km dengan biaya investasi Rp32,291 triliun. (rhs)