Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - PT XL Axiata Tbk (EXCL) yang dulunya bernama Excelcomindo Pratama, mencatat total permohonan exercise dan pemesanan saham tambahan sebesar 1.188.415.110.
Sementara untuk total sisa saham yang dibeli pembeli siaga sebesar 229.584.890. Sehingga total penawaran umum terbatas I (PUT) perseroan tercatat sebesar 1,418 miliar.
Hal tersebut diungkapkan Pjs Corporate Secretary EXCL Sutrisman, dalam laporannya di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (17/12/2009).
Adapun komposisi pemegang saham perseroan setelah penjatahan (11 Desember 2009) dengan kepemilikan lima persen atau lebih yakni Indocel Holding Sdn Bhd sebesar 86,5 persen dengan jumlah saham 7.358.709.290 senilai Rp735,87 miliar.
Selanjutnya Etisalat International Indonesia Ltd sebesar 13,3 persen dengan jumlah saham 1.132.497.500 senilai Rp113,249 miliar. Kemudian, lainnya sebesar 0,2 persen dengan jumlah saham 16.793.210 senilai 1,679 miliar. Sehingga total saham yang beredar sebanyak 8,508 miliar senilai Rp850,8 miliar.
Seperti diketahui, per 14 Desember, perseroan meraup Rp2,8 triliun dari total dana penawaran umum terbatas (right issue) dengan jumlah saham baru yang diterbitkan sebesar 1,418 miliar lembar saham.
Total jumlah saham yang beredar saat ini sebanyak 8,508 miliar lembar saham. Di mana dana dari right issue seluruhnya akan digunakan untuk membayar utang.
Setelah dikurangi dengan biaya-biaya emisi, seluruh dana hasil perolehan pun akan digunakan untuk membayar utang XL, yakni untuk pinjaman kredit sindikasi dengan DBS Bank Ltd, Export Development Canada, The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd, dan Chinatrust Commercial Bank Ltd senilai USD140 juta (Rp1,3 triliun).
Selain itu akan digunakan untuk membayar pinjaman kredit bilateral dengan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk senilai Rp400 miliar, membayar pinjaman kredit bilateral dengan PT Bank Mizuho Indonesia senilai USD50 juta (Rp474 miliar).
Kemudian digunakan untuk membayar pinjaman kredit bilateral dengan DBS Bank Ltd senilai USD50 juta (Rp474 miliar), membayar pinjaman kredit ekspor dengan Exportkreditnämnden (EKN) Buyer Credit Facility yang didanai oleh Swedish Export Credit Corporation senilai USD11,7 juta (Rp111 miliar).
(ade)