Foto: Koran SI.
JAKARTA - Indeks kebahagian masyarakat Jakarta dalam survei 2009 ini mencapai angka 3,61. Nilai ini dapat dikategorikan masih tergolong rendah karena masih berada di bawah rata-rata nilai empat. Angka empat mencerminkan penilaian bahagia dan tertinggi lima, value yang dinilai sangat bahagia.
"Jika ditelisik lebih jauh satu-satunya variabel independen yang berada di atas nilai rata-rata indeks ini adalah pendidikan tinggi," ujar tim survei Yayasan Indonesia Bahagia (YIB), di Ballroom Bimasena, Dharmawangsa Hotel, Jakarta, Kamis (17/12/2009).
Artinya, hanya mereka yang memiliki pendidikan tinggi yang hidup di Jakarta yang cenderung memiliki tingkat kebahagiaan lebih baik ketimbang warga lainnya.
"Ini juga menegaskan bahwa hanya pendidikan yang menjadi pembeda bagi bahagia atau tidaknya seseorang," katanya.
Sementara itu, variabel lainnya seperti usia, status ekonomi, gender, dan agama yang dianut tidak menjadi faktor pembeda yang signifikan. "Ini berarti usia berapa pun dia, sebaik apapun ekonominya, apakah laki-laki atau perempuan serta agama apapun yang dianutnya tidak menjadi faktor tingkat kebahagiaannya sama," ungkapnya.
Namun, dijelaskannya, jika seseorang memiliki pendidikan yang lebih baik maka memiliki kecenderungan lebih bahagia.
Kesimpulan ini menegaskan bahwa pendidikan bagi seseorang itu adalah penting. Pendidikan menjadi kekuatan untuk membahagiakan masyarakat Jakarta. "Itulah mengapa akses pendidikan yang terbuka luas hingga perguruan tinggi dipercaya akan membawa kebahagiaan masyarakat," katanya.
Survei ini diselenggarakan oleh YIB dengan melakukan wawancara terhadap 500 orang warga Jakarta. Responden dipilih sepenuhnya secara acak dengan teknik penarikan acak bertingkat (multistage random sampling). Unit analisis survei ini adalah individu (bukan keluarga atau institusi lainnya).
Dengan metode penarikan sampel seperti ini, hasil survei dapat diklaim meresentasi keadaan masyarakat Jakarta dengar margin of error lima persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (rhs)