Foto: Corbis.com
TOKYO - Bank Sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ) mempertahankan tingkat suku bunganya di level 0,1 persen. Langkah tersebut ditempuh untuk memerangi deflasi yang mendera Negeri Sakura.
Tekad para pemangku kebijakan moneter pun telah bulat dan tidak akan berkompromi demi menjaga kemerosotan harga. Demikian hasil rapat dewan gubenur Bank Sentral Jepang, yang dilakukan selama dua hari.
"Ini merupakan tantangan penting bagi ekonomi Jepang untuk mengatasi deflasi dan kembali ke jalur pertumbuhan yang berkelanjutan dengan kestabilan harga," demikian pernyataan Bank Sentral Jepang dalam keterangan yang dipublikasikan Associated Press (AP), Jumat (18/12/2009).
Sikap tersebut ditempuh atas kesepakatan dengan pemerintah Jepang untuk bersikap lebih proaktif. Awal bulan ini, Perdana Menteri Yukio Hatoyama dan Gubernur Bank Jepang Masaaki Shirakawa telah bertemu untuk membahas masalah deflasi. Hatoyama berjanji untuk segera mengambil tindakan.
Indeks harga konsumen inti Jepang jatuh dengan cepat hampir 2,2 persen pada Oktober dibanding tahun sebelumnya. Ini merupakan rekor kejatuhan tercepat selama delapan bulan secara terus-menerus.
Deflasi dapat memukul ekonomi Jepang cukup dalam. Dengan penurunan mata uang akan menguras pendapatan perusahaan. Deflasi pun telah membuat perusahaan setempat was-was. Sebab, imbas yang bisa ditimbulkan, yakni mengarah ke pemotongan gaji.
Awal Desember ini, Pemerintah Jepang memangkas perkiraan pertumbuhan untuk kuartal ketiga menjadi 1,3 persen dari 4,8 persen. (rhs)