Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pengembang Minta Harga RSh Naik

Arif Dwi Cahyono , Jurnalis-Senin, 21 Desember 2009 |07:31 WIB
Pengembang Minta Harga RSh Naik
Foto: Koran SI
A
A
A

JAKARTA - Pengembang semakin getol mengusulkan kenaikan harga rumah sederhana sehat (RSh). Harga saat ini dinilai sudah tak sebanding dengan kenaikan harga material bahan bangunan.

Ketua Umum Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (Apersi) Fuad Zakaria mengatakan, harga RSh pun sudah beberapa tahun tidak mengalami penyesuaian. “Padahal, dalam dua tahun ini kanterjadi inflasi yang terus memengaruhi harga-harga," kata dia di Jakarta kemarin. Fuad menjelaskan, kenaikan yang diusulkan Apersi adalah sekitar 15 persen dari harga saat ini sebesar Rp55 juta, sehingga harga baru RSh menjadi sekitar Rp63-64 juta per unit. Kenaikan harga tersebut dinilai cukup realistis terhadap situasi yang berkembang sekarang.

Dia menegaskan,permintaan kenaikan harga tersebut tidak semata demi menaikkan keuntungan pengembang. Hal itu, jelas dia,lebih untuk melakukan penyesuaian terhadap kondisi ekonomi yang terus berubah sejak dua tahun lalu. Fuad menyadari bahwa kenaikan harga tersebut bakal memukul para calon konsumen.

Karena itu, imbuh dia, dalam hal ini perlu peranan pemerintah untuk memberikan subsidi yang lebih besar demi menjaga daya beli calon pembeli RSh. Hal lain yang dapat dilakukan pemerintah untuk menghindari kenaikan harga adalah dengan menghilangkan faktor biaya tinggi di luar material bangunan,seperti perizinan dan lainnya, yang nilainya bisa mencapai 20 persen dari harga rumah.

“Namun untuk yang ini rasanya sangat sulit untuk dapat terealisasi dalam waktu dekat. Perlu komitmen semua pihak,mulai dari pusat hingga daerah untuk menghilangkan biaya-biaya yang tidak penting dan menyebabkan harga RSh tinggi. Tapi jika ini bisa dilakukan, maka kemungkinan harga RSh sekarang tidak perlu dinaikkan," tuturnya. Sampai dengan akhir tahun, Apersi memperkirakan realisasi pembangunan RSh oleh anggotanya mencapai sekitar 60 ribu unit yang sebagian besar terkonsentrasi di Bekasi, Tangerang dan pinggiran Jakarta.

Sementara itu, kalangan pengembang yang tegabung dalam Realestat Indonesia (REI) bahkan mengusulkan kenaikan harga yang lebih tinggi, yakni mencapai Rp70 juta per unit. Ketua REI Teguh Satria mengatakan, kenaikan ini untuk menjaga agar sisi pasokan RSh tetap terjaga.“Ini masih bentuk usulan lisan saja, tapi kita harapkan Kemenpera untuk segera menetapkan batasan harga yang baru," cetusnya. Sebelumnya, Teguh mengatakan, REI menargetkan dapat membangun 160.000 unit RSh pada 2010. Sementara realisasi pembangunan pada 2009 diperkirakan hanya sekitar 136.000 unit, di bawah target sebanyak 158 ribu unit.

Hal itu terjadi abtara lain akibat target konsumen RSh dari kalangan pegawai negeri sipil (PNS) banyak yang tidak sanggup membayar uang muka. Persoalan lainnya adalah masalah ketersediaan listrik. Sampai saat ini, kata dia, terdapat sekitar 100 ribu unit RSh yang belum teraliri listrik, baik itu sudah ditempati atau pun belum. Terkait dengan masih banyaknya masalah yang membelit program RSh tersebut, Teguh meminta pemerintah segera melaksanakan komitmennya untuk mengurangi biaya tinggi dalam perizinan pembangunan dan lainnya, sehingga biaya produksi RSh dapat diturunkan.

Menanggapi usulan dari para pengembang tersebut Menteri Negara Perumahan Rakyat Suharso Monoarfa mengatakan, pemerintah masih mengkaji permintaan tersebut.Namun, imbuh dia, pemerintah berharap ada solusi lain karena kenaikan harga dikhawatirkan akan lebih memukul kemampuan beli masyarakat. "Kita kaji dulu, tetapi kita belum ada ke arah sana," katanya. Suharso menambahkan, inflasi yang terjadi dalam dua tahun terakhir masih belum terlalu signifikan dalam menyumbangkan kenaikan harga-harga bahan pendukung perumahan.

Selain itu,bila dilakukan kenaikan harga RSh, beban subsidi pemerintah pun ditakutkan semakin melonjak. “Oleh sebab itu,sekarang yang diupayakan adalah bagaimana menekan biaya penyebab ekonomi tinggi di sektor perumahan seperti perizinan dan lainnya, sehingga kita tetap dapat mempertahankan harga RSh seperti saat ini.

Pengembang rusunami (rumah susun sederhana milik) juga minta (harga) dinaikkan, tapi masih belum kita setujui. Kita akan kawal masa transisi ini agar dapat berjalan dengan baik," ujarnya.

(Candra Setya Santoso)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement