Ilustrasi. Foto: Corbis
JAKARTA - Usaha untuk mencapai pemakaian energi yang efisien di Indonesia ternyata harus menghadapi tantangan yang cukup berat. Kendati Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki komitmen tinggi untuk mengurangi emisi gas rumah kaca.
Seperti dikutip dari Departemen ESDM, di Jakarta, Jumat (25/12/2009), hal ini memiliki konsekuensi pada kebutuhan untuk mengembangkan efisiensi energi dalam berbagai sektor pembangunan dan kehidupan masyarakat.
Selain itu, Indonesia pun tercatat telah menetapkan target reduksi emisi sebesar seperempat dari level yang ada pada saat ini sampai dengan 2020.
Data Statistik Ekonomi Energi Kementerian ESDM menggambarkan bahwa elastisitas pertumbuhan konsumsi energi terhadap Pertumbuhan Domestik Bruto (PDB) rata-rata dalam rentang 1991-2005 mencapai 2,02.
Angka tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan PDB masih bergantung pada pertumbuhan konsumsi energi yang besar (elastisitas energi yang diharapkan kurang dari satu, yang menunjukkan tingkat efisiensi tinggi).
Walaupun intensitas penggunaan energi relatif tinggi, namun konsumsi energi per kapita di Indonesia relatif rendah. Indeks intensitas energi Indonesia mencapai 470, sementara konsumsi energi per kapita adalah 0,467.
Bandingkan dengan Jepang, intensitas energi 92,8 sementara konsumsi energi per kapita-nya adalah 4,14. Angka tersebut memperkuat gambaran bahwa penggunaan energi di Indonesia belum produktif dan belum merata.
Untuk mengembangkan efisiensi energi, selain mendorong pertumbuhan ekonomi, Indonesia juga harus mengurangi pertumbuhan konsumsi energi.
Pengurangan angka pemakaian energi adalah dengan melakukan langkah efisiensi, konservasi dan diversifikasi energi. Hal ini menuntut peran para pihak secara luas, terutama sektor-sektor yang mengkonsumsi energi dalam skala besar.
Langkah efisiensi energi tersebut sangat penting agar sumber daya yang terbatas bisa digunakan untuk kepentingan masyarakat luas, terutama bagi masyarakat yang belum beruntung mendapatkan pelayanan energi.
Dalam konteks perubahan iklim, langkah efisiensi energi ini adalah bagian dari komitmen bersama dalam mengurangi laju emisi global, di mana Indonesia merupakan salah satu negara emiter terbesar.
Saat ini, sektor ketenagalistrikan merupakan tulang punggung dari mesin pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor ini menjadi salah satu konsumen energi fosil terbesar, di mana 38 persen total emisi karbondioksida dunia berasal dari sektor ketenagalistrikan.
Penghematan energi pada sektor industri juga membutuhkan investasi besar dalam perubahan teknologi yang lebih ramah lingkungan. Gaya hidup dan budaya masyaakat yang masih boros energi merupakan salah satu masalah pening yang perlu diatasi.
Langkah hemat energi tidak mungkin bisa tercapai hanya dengan mengandalkan peran pemerintah saja, namun harus menjadi gerakan masyarakat untuk mempromosikan gaya hidup hemat energi sebagai bagian dari budaya masyarakat.
Hal tersebut juga perlu didukung melalui pengembangan pengetahuan untuk promosi produk-produk hemat energi yang mampu menjangkau masyarakat luas.
(ade)